jangan menjadi PENGECUT kawan...!!!

         Kawan saya suatu hari berbincang mengenai kepemimpinan. Katanya, Indonesia membutuhkan kehadiran pemimpin yang bersih dari anasir-anasir kepentingan sesaat. Tak hanya retoris mendukung gagasan “good goverment”. Pemimpin Indonesia harus berani berjuang menghancurkan segala macam tindak kejahatan baik itu kejahatan akademis, moral dan juga korupsi di negeri ini.
Tidak hanya membersihkan partainya dari kader korup. Tetapi memberikan peluang untuk para penggiat antikorupsi agar mereka memiliki komitmen bersih dan bermoral ketika menjadi seorang pemimpin. Mereka harus diberikan kesempatan mengubah carut-marut kepolitikan di negeri ini dari dalam.
        Melebar hingga kearah kampus kita mendiskusikan bahwasanya, kampus kita, sama keadaanya seperti negeri ini. membutuhkan pemimpin yang bersih pula. dalam benak saya muncul pertanyaan sebagai kader HMI apa yang perlu kita lakukan unk menghadapi situasi seperti ini??? kalau kita melihat usia dari HMI sendiri yang menapaki usia senja,semakin sulit dimengerti. tentu kita tidak berharap HMI akan tutup usia.Layaknya manusia di usia enam puluh tahun lebih, yang tertinggal di tubuhnya hanya penyakit, kelemahan, keluh-kesah, dan ketergantungan pada uluran tangan orang lain. Bahkan untuk sekedar berjalan atau minum obat. Jika mau jujur, analogi orang tua itu nampaknya memang persoalan yang sedang kita (baca:HMI) hadapi. Tubuh kita sedang digerogoti “penyakit dalam” yang mengkhawatirkan. Sebagai indikasi, komitmen dan militansi kader terus mengalami penurunan, pemahaman keislaman kader makin dipertanyakan, dan penyakit umum para kader yang justru sering dianggap sebagai kelebihan : Talk Only No Action! Pantas saja, jika penyakit itu kemudian membuat tubuh kita menjadi semakin rentan dan lemah.
         Implikasinya, organisasi ini kemudian terengah-engah untuk berkompetisi dengan organ-organ muda lain yang lebih progressif. Kita terkaget-kaget dengan perubahan radikal yang terjadi di sekeliling kita. pengkaderan kita dipertanyakan. kader mulai terjun dalam dunia perpolitikan kampus. politik praktis sebagai dasar. iming-iming kekuasaan. ibarat kita adalah kaum yang sedang haus akan air dan raja " menjanjikan " akan memberikan air kenikmatan(kata:kakanda).mudah-mudahan itu bukan sekedar janji kawan.
        dalam training LK1 instruktur memberikan ajaran(dokrin) tentang independensi, militansi, idealis. menurut saya pribadi, itu akan menjadi pegangan kita sebagai kader HMI. ntah itu akan berujung seperti aktifis munir, ahmad wahib atau yang lainnya. tapi itulah kenyataan sebagai kader HMI. kalo boleh saya memberikan sedikit kata " sebagai kader HMI lebih baik Mati dari pada jual ideologi ".
       kampus adalah lahan kita untuk menghidupkan organisasi serta militansi adalah senjatanya. kader HMI di didik untuK menjadi kader pemberani. bukan Kader " PENGECUT ". permasalahan kekuasaan kampus level mahasiswa sudah biasa kita hadapi dnamika keras membuat kita benar-benar berproses. tetapi kali ini saya rasa berbeda dengan militansi dan juga idealisme kader yang mulai menjadi "gampangan ". banyak yang bersikap pragmatis. membuat benteng pertahanan sedikit kebelakang. beruntung, masih ada kader " istiqomah " yang tetap menjunjung idealisme.
      HMI merupakan organisasi pengkaderan kawan, bukanlah organisasi perpolitikan atau bahkan media untuk mencari kekuasaan. setelah sekilas mengkaji keadaan di HMI serta oto-kritik habis-habisan di atas, catatan penting bagi semua, bahwa kita juga harus melakukan revolusi sikap. Omong kosong semua hal diatas, jika attitude kita masih seperti hari ini. Dari revolusi sikap kita pribadi, ada harapan terjadi revolusi positif di HMI. Wallahu’alam bishowab, tetap semangat dalam wata’awanu ‘alal birri wa taqwa dan wa la ta’awanu ‘alal ismi wal udwan.

‘’KEBEBASAN MAHASISWA YANG TERSANDRA’’ ‘’BIROKRASI’’


‘’KEBEBASAN MAHASISWA YANG TERSANDRA’’
‘’BIROKRASI’’
oleh : Holilurrahman (ketum HMI Koms. Saintek)

Kebebasan mahasiswa sejati sebagai agen perubahan of social control pada dekade ini mulai meredup dan mengalami pergeseran dari makna kebebasan yang sesungguhnya perubahan ini banyak di pengaruhi oleh intervensi birokrasi yang melokalisir pola gerakan mahasiswa cenderung ke arah prakmatisme dan kepetingan sesaat. Seharusnya birokrasi kampus menanamkan nilai-nilai idealisme dan karakter budipekerti luhur terhadap para calon kholifah bangsa ini yang senada dengan tridarma perguruaan tinggi justru mengajarkan contoh tidak baik terhadah para peserta didiknyak terbukti praktek korupsi marak di kalangan birokrasi baik yang duduk di struktural kampus maupun negara mulai kelas elit sampai kelas sekecil-kecilnya mereka satu misi untuk membangun sistem kemunduran indonesia yang berdampak sistemik.
Tragedi 1998 menjadi catatan historis revolusi birokrasi indonesia dari rezim diktator menuju rezim demokrasi yang mana masyarakat di berikan kebebasan untuk mengaspirasikan pendapatnya kebebasan itu juga merembet terhadap kebebasan midia massa seperti yang kita rasakan sampai hari ini. Peranan penting revolusi birokrasi itu di pegang oleh para mahasiswa karna sejatinya mahasiswa adalah sesuai dengan apa yang sudah di bahasakan –WS Rendra-
“Kesadaran adalah mentari

Kesabaran adalah bumi

Keberaniaan adalah cakrawala

Perjuangan adalah pelaksana kata-kata”
Hasan Hanafi membrikan gambaran bahwa kekuasaan dan ilmu pengetahuan tidak bisa terpisahkan  keduanya akan selalu beririgan untuk saling menguatkan karena kejayaan suatu negara ditentukan oleh kualitas dan kapabelitas intelektual para msyarakat negara itu, menjadi sangat ideal kalau kemudian para mahasiswa selaku kaum intlektual mengambil jalur kiri atau gerakan kiri untuk terbang bebas dari sandra yang sengaja dibuat birokrasi untuk meminimalisir gerakan perlawan kekuasaan, tampa kontrol baik dari mahasiswa apalagi aktifis mahasiswa yang selalu berlandaskan pada kebenaran dan perjuangan akan memberikan peluang yang sangat besar bagi para elit birokrat yang tidak berpihak pada kesejahtraan rakyat dan akan bertindak sewenang-wenag dalam menentukan kebijakan publik. 
Kerasnya teriakan seorang pemuda dibelenggu peredam suara semakin keras hanya segelintir orang yang bisa mendegar, ahirnya politik identitas mulai tampak dengan berbagai kepentingan pribadi rekonstruksi idealism birokrasi semakin jauh dari harapan, yang terjadi hanya adu domba identitas yang memang disengaja oleh pemimpin yang otoriter, sebentar lagi pertahanan otoriter itu akan jebbol dengan gempuran kaum kiri mahasiswa dengan kualisi gerbong besar yang sudah bosan dengan penindasan dan ke tidak adilan mengusung pemimpin revolusioner, otoriter, egaliter yang visioner. 

ETIKA INDEPENDENSI, Demokrasi Tuhan terhadap Hakekat Manusia


Oleh : Luluk (HMI Koms. Psikologi)

            Analogi sederhana, kalau kita ingin tahu tentang mobil, maka bertanyalah pada yang membuat mobil. Kita akan tahu, apa saja kerangka penyusunnya, dan apa tujuan pembuat mengadakan mobil tersebut. tapi secara subjektif, yang  kita lihat dari luar mobil itu  bangun yang bentuknya tergantung pada yang membuat. Dan setelah masuk, ada banyak ruang kosong yang tentunya mengikuti postur mobil.
            Metafora dari analogi di atas, adalah pada penciptaan manusia. untuk melepas unsur subjektivitas,berbicara tentang manusia ya dengan wawncara pada penciptanya.  Inilah, yang dilakukan malaikat ketika mendengar Tuhan akan menciptakan makhluk baru, pada waktu itu Tuhan sebut dengan kata “Kholifah” bukan dengan kata manusia. Bertanya malaikat pada Tuhan “ kenapa engkau akan ciptakan di bumi makhluk yang akan menyebabkan kerusakan dan  pertumpahan darah padahal, kami selalu bertasabih kepadaMu?” Jawaban yang cukup menggelitik dari Tuhan, “ Sesungguhnya aku tahu apa yang tidak engkau tahu.”
            Dari hasil dialog tersebut, saya menangkap karakter yang  ada pada manusia adalah manusia sebagai kholifah, sesuai dengan firman penciptanya, Inniy Jailun fil Ardhi Kholifah. Dan manusia sebagai perusak dan penumpah darah . Namun, penggalian esensi diri ini, secara pribadi saya tertantang dengan kata Inniy a’lamu ma la ta’lamun. Apa yang Tuhan sembunyikan dengan menggunakan kata Aku tahu? Adakah esensi lain, yang dimisterikan, selain yang diketahui malaikat, bahwa manusia sebagai perusak?
            Bukan bermaksud membaca pemikiran Tuhan.  Sebelum terciptanya bumi, Tuhan tentu sudah memiliki kehendak bahwa aka ada penghuni di dalamnya. Yang mewakili dzatNya untuk mengatur seluruh isi bumi. Sesuai dengan sifatNya  yang kekal, munculnya kehendak akan penciptaan kholifah, mustahil Tuhan memikirkan setelah bumi itu ada. Karena itu menunjukkan ketidak kekalan Tuhan itu sendiri. Dia telah memiliki perubahan dalam kehendakNya. Terlebih muncul karena mahluk yang ia ciptakan sendiri. Tuhan jauh dari hukum sebab akibat, maka kehendak penciptaan manusia sebagai pengatur bumi, entah dengan keterengan waktu bagaimana, jelasnya kehendak akan penciptaan bumi dan kehendak akan adanya kholifah di dalamnya, muncul secara bersama. Dengan bahasa lain, bukan disebabkan Tuhan melihat bumi kosong (Al-Ghazali:
            Berbeda dengan kepemimpinan dalam sistemik politik, yang mana pemimpin dipilih dengan melihat kemampuan, kholifah fil Ard adalah orang yang telah diberi kemampuan untuk memimpin. dan memiliki kewajiban menjalankan kepemimpinnya. Tuhan sangat demokratis dengan member bekal, member otonom bagaimana memfungsikan bekal, dan lebih demokratis lagi Tuhan yang member kepercayaan, maka Tuhan yang berhak menuntut terhadap Pertanggung jawabannya.
            Singkatnya manusia memiliki Independensi diri,dalam mengatur tanggung jawabnya. Jika kembali pada analogi mobil di atas, Tuhan tidak  memberi alat kendali pada manusia, seperti halnya sopir pada mobil. Karena masing-masing manusia telah diberi independensi, maka tidak ada manusia yang bertanggung jawab terhadap manusia yang lain. Manusia berdiri sendiri, tanggung jawabnya hanya pada Tuhan.
            Dari konsep independensi tersebut, maka substansi  mendasar yang dimiliki oleh manusia adalah Nurani, atau saya istilahakan dengan Etika Independensi. Etika yang menjadi bekal kepemimpinan. Etika yang bearasal dari konsep dirinya sendiri dalam memberi penilaian terhadap kehidupan. Jika selama hidupnya ada nilai lain yang menjadi paradigma dalam hidupnya, maka nilai tersebut hanya tekanan dari lingkungan yang berada di luar manusia. Maka ketika manusia mengikutinya, diakui atau tidak secara psikis akan muncul adanya penolakan dari nurani manusia. namun nilai-nilai sistemik tersebut, yang saya istilahkan dengan Etika kolektif telah memenjarakan etika independensi mereka, dengan ancaman konsekuensi berupa hukum masyarakat. Kalau manusia diciptakan sebagai pemimipin dan memiliki bekal nurani yang telah berisi nilai dari Tuhan, kenapa harus mengikti ide-ide sistemik yang bersasal dari luar dirinya. Kalau pada ahirnya, manusia yang bertanggung jawab atas semua tingkahnya, kenapa harus memilih pemimpin di luar dirinya, dan mengikuti ideologi yang diciptakan bersama, karena jika itu salah di mata Tuhan, meskipun hanya sebagai pengikut, hukuman Tuhan tetap berlaku. Jadi, berani saya katakana bahwa etika lingkungan harus dihindari jika manusia tetap ingin mempertahankan independensinya.
            Selama manusia belum mampu keluar dari etika sistemik, maka saat itu manusia tidak mampu untuk merdeka. Ia hanya menjadi boneka dari lingkungabutnnya.  Dan pencapaian kebutuhannya terhadap aktualisasi diri, sesungguhnya adlah semu. Dia bukan mengaktualisasikan diri, tapi dia hanya jadi cermin terhadap aktualisasi lingkungan yang menguasainya. Maka, ketika manusia ingin mengejar eksistensi, bukan dengan cara mengikutu gerak waktu yang sejatinya digerakkan oleh yang di luar dirinya, dan buka dengan menempati ruang yang kebanyakan di sana manusia memiliki peran tidak sesuai dengan pribadinya. Melainkan manusia harus mampu keluar dari pergerakan alur dan waktu tersebut, dengan mampu mengerakkan alur dan waktu seseuai dengan etika yang dimilikinya. Jadi, aktualisasi diri dinyatakan tercapai ketika manusia telah mampu mengeksistensikan substansinya.
            Untuk mampu keluar dari etika yang tekolektifkan, maka langkahnya adalah, manusia harus berhenti menjadi alat dari tujuan orang lain dan mengejar apa yang menjadi tujuan sendiri. Untuk itu, saya berani menolak, konsep manusia sebagai makhluk sosial. Karena konsep ini bukan membawa manusia untuk saling berkorban antara yang satu dengan yang lain, melainkan hanya jadi ajang manusia saling dikorbankan untuk kepentingan masing-masing. Kata “sosial”, telah memberi paradigma bahwa kebenaran adalah ketika mampu menghanguskan kepentingan sendiri demi kepentingan orang lain.
            Disebut sebagai makhluk sosial, akan menjadikan menjadikan manusia sebagai pengemis. Ia akan menjadi produk zaman, ia hanya diperbudak padahal ia diciptakan sebagai pemimpin, ia dibatasi kebebasan berfikirnya padahal Tuhan menciptakan ia sebagai makhluk yang berfikir, ia dipaksa untuk bertindak yang bertentangan dengan penilaian rasionalnya sendiri, padahal Tuhan telah memberi dia nurani ebagai tolak ukur akan nilai benar dan salah.
            Manusia sosial hanya menciptakan antara keputusan dan kebutuhan fitrah manusia. dan itu bukan kelompok sosial melainkan massa yang dipersatukan oleh kekuasaan geng terlembaga. Manusia sosial menghancurkan semua nilai kehidupan bersama manusia, tidak punya justifikasi dan menggambarkan, bukan sumber nilai manfaat, melainkan ancaman mematatikan bagi kelangsungan hidup manusia.
            Tuhan melarang manusia untuk bunuh diri. Tapi, manusia sosial menuntut mereka untuk mengorbankan diri. Pengorbanan adalah penyerahan suatu nilai yang lebih besar demi nilai yang lebih kecil, atau bahkan bisa disebut bukan nilai. Sebagai ilustrasi, manusia akan berkorban untuk kepentingan cintanya. Padahal itu bukanlah pengorbanan untuk orang yang ia cintai, melainkan ia hanya berkorban untuk kepentingan pribadinya karena belum siap untuk ditinggalkan. Inilah yang saya maksud, dia rela mengorbankan nilai harga dirinya, untuk hal yang berda di luar dirinya. Manusia punya potensi untuk hidup sendiri, buktinya mereka punya kemampuan untuk berkorban demi orang lain. Tetapi etika kolektif, menjadikan mereka hidup untuk orang lain.
            Kebajikan yang terlibat dalam membantu orang yang dicintai, bukanlah pengorbanan. Melainkan lebih tepatnya adalah integritas. Integritas adalah kesetiaan pada keyakinan dan nilai-nilai sendiri. Ia adalah kebijakan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai orang itu sendiri, kebijakan untuk mengekspresikan, mendukung dan menerjemahkan nilai-nilai itu kedalam realitas.
            Lalu bagaimana mengistilahkan pemberian kepada orang asing? Itulah yang disebut dengan rasa hormat dan kemauan baik atas nama nilai yang ada dalam dirinya sampai atau kecuali dia kehilangan niali itu. Muhamad diutus tidak untuk belajar akhlak pada lingkungannya, tetapi dia diutus dengan membawa bekal akhlak di dalam dirinya.
            Seorang manusia rasional tidak lupa bahwa kehidupan adalah sumber semua nilai dan karena itu ikatan umum antara sesame makhluk adalah dengan menganggap bahwa orang lain sevara potensial dapat mencapai kebajikan yang sama sebagaimana kebajikan dia sendiri dan dengan demikian sangat bernilai bagi dia.
            Ini berarti bahwa dia tidak berfikir kehidupan manusia bisa saling dipertukarkan dengan kehidupan dia sendiri. Dia mengakui fakta bahwa kehidupannya sendiri adalah sumber, bukan hanya bagi semua nilai-nilainya, tapi bagi kemampuannya untuk member penilaian. Karena itu, nilai yang ia berikan pada orang lain hanya merupakan suatu konsekuensi, suatu eksistensi, dan suatu proyeksi sekunder dari nilai primer yang tidak lain adalah diri dia sendiri.
            Dia sendiri, saya tegaskan bahwa untuk mencapai eksistensi, menjadi dia sendiri tidak dengan membawa ide kolektif. Mengikuti ide kolektif manusia hanya akan diakui oleh ranah yang semu, ranah yang sebenarnya adalah ketika manusia mamapu menyelami apa yang ada dalam palung dirinya. Sebuah sisi spiritual, yang saya lebih suka sebut sebagai nurani. Ranah semu dari ide kolektif memang menjadikan manusia diakau. Tapi itu adalah tempat yang sesat. Ranah yang bukan menjadikan manusia bereksistensi. Namun sebagai objek yang tubuhnya dipinjam untuk mengeksistensikan yang lain. Mereka bukan menjadi diri sendiri tapi terdoktrin untuk membentuk diri sesuai ide kolektif. Eksistensi adalah ketika tubuh dan jiwa menjadi satu. Bukan ketika tubuh melakukan afektif tertentu. Tapi nurani menolaknya.
Manusia tidak pernah memiliki ide bawaan, tapi ide kolektif telah menormakan mereka untuk mengenakannya. Ide bawaan atau rasisme yang mengaitkan signifikansi moral dengan garis keturunan genetis seseorang,gagasan bahwa cirri karakterologis dan intelektual seseorang dihasilkan dan diwriskan oleh kimia tubuh internalnya mengakibatkan sesorang dihakimi, bukan dengan karakter dan tindakannya sendiri, tapi dengan karakter dan tindakan kolektif nenek moyang ini sama saja ide bawaan, bukan hanya mewariskan ide tapi mewariskan dosa.
Rasisme mengklaim bahwa isi pikiran manusia adalahh diwariskan, bahwa keyakinan, nilai dan karakter seseorang ditentukan sebelum dia lahir, oleh factor-faktor fisik di luar kontrolnya. Inilah yang mematikan sifat-sifat spesifik yang membedakan manusia dari semua spesiesnya. Dengan cara mematikan rasionalanya Baik dan buruk manusia bukan dinilai dari dirinya saat itu tapi dilihat dari silsilah keluarganya. Inilah yang saya maksud bahwa dia tidak bereksistensi, dengan ide kolektif manusia hanya mengeksistensikan ide-ide kelompok dan ide nenek moyang, padahal Tuhan juga member dia nilai.

            Manusia terlahir secara Tabula Rasa, mereka adalah latar putih. Dalam penciptaannya Tuhan telah membekali dengan sisi spiritual. Tapi lingkungan ada yang baik dan yang buruk. Bukan karena Tuhan menciptkan mereka buruk. Tapi karena konsep nilai etika setiap manusia bukan untuk dikolektifkan, tapi untuk dijalankan secara independen dari yang ia pikirkan.
Ketika kamu mengikuti pemikiran orang lain, maka sejak saat itulah kamu menjauh dari dirimu sendiri. Tetapi sekalipun kamu sudah mengikuti apa yang menjadi jalan pikirmu. Kamu belumlah bisa disebut sebagai kamu. Itu masih proses menuju kamu. Dengan kata lain, itu hanya sekedar mengkamu..
Itulah spasi anata hakekat dan eksistensi manusia. eksistensi hanyalah jembatan, dan belum mencapai siapa sebenarnya manusia. karena di dalam eksistensi masih terdapat proses yang mana eksistensi sendiri bukanlah garis ahir. Ada waktu yang senantiasa bergerak, dan ruang yang senantiasa meluas.
            Aku adalah aku ketika aku keluar dari eksistensiku, yaitu di saat ruang dan waktu tidak lagi menjadi pengendali.
Diskusi Filsafat Manusia
Dibedah Dari Buku “Kebajikan sang Diri”

Beasiswa Data Print


Untuk Kawan-kawan yang membutuhkan beasiswa apa salahnya untuk mencoba Beasiswa dari Data Print ini. selamat mencoba....!!!
Persyaratan Umum:
1.  Pelajar/mahasiswa aktif dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi untuk jenjang D3/S1
2.  Terlibat aktif di kegiatan atau organisasi sekolah/perguruan tinggi
3.  Tidak terlibat narkoba atau pernah melakukan tindak kriminal
4.  Tidak sedang menerima beasiswa dari perusahaan lain. Jika saat ini peserta masih menerima beasiswa dari kampus, peserta berhak mengikuti pendaftaran beasiswa dari DataPrint.
Peraturan Lomba :
1.  Mengisi formulir registrasi di kolom Pendaftaran
2.  Satu nomor kupon yang terdapat di dalam produk DataPrint, hanya berlaku untuk satu kali registrasi
3.  Pendaftaran tidak dipungut biaya
4.  Isilah formulir dengan sebenar-benarnya.
5. Kolom NAMA, diisi dengan nama lengkap
6. Kolom KODE KUPON, diisi dengan kode yang tertera pada bagian belakang kupon yang ada di dalam produk DataPrint
7. Kolom EMAIL, diisi dengan email aktif yang masih berlaku
8. Kolom NO TELPON, diisi dengan no HP atau no telpon rumah yang masih aktif dan bisa dihubungi
9. Kolom JENJANG PENDIDIKAN, diisi dengan jenjang pendidikan yang sedang ditempuh saat ini. Tuliskan juga nama sekolah/perguruan tinggi di kolom ini.
10. Kolom NAMA PERGURUAN TINGGI/SEKOLAH, diisi dengan nama sekolah/perguruan tinggi tempat kamu menuntut ilmu.
11. Kolom KEGIATAN YANG PERNAH/SEDANG DIIKUTI DAN PRESTASI YANG PERNAH DIRAIH, diisi dengan organisasi yang pernah dan sedang diikuti saat ini serta prestasi yang pernah diraih.
Aktivitas berupa kuliah atau belajar di sekolah, tidak termasuk prestasi.
12. Kolom LAMA MENGGUNAKAN DATAPRINT, diisi dengan waktu penggunaan produk DataPrint
13. Kolom MENGETAHUI INFORMASI BEASISWA, diisi dengan narasumber awal yang memberitahu mengenai program beasiwa pendidikan DataPrint
14. Kolom NILAI RAPORT (BAGI PELAJAR dan MAHASISWA BARU), diisi dengan total nilai secara keseluruhan beserta jumlah mata pelajaran pada semester terakhir. Ingat, kolom ini hanya diisi oleh pelajar atau mahasiswa baru yang belum mempunyai IP.
Contoh: 98 dari 7 mata pelajaran
15. Kolom IPK TERAKHIR (BAGI MAHASIWA), diisi dengan nilai IPK atau jika belum memiliki IPK boleh diisi dengan nilai IP semester terakhir. Tuliskan juga semester yang sedang ditempuh. Ingat, kolom ini hanya diisi oleh mahasiswa, bukan pelajar.
16. Kolom URL BLOG, diisi dengan copy URL blog kamu yang memuat informasi mengenai beasiswa DataPrint. Isi kolom ini jika kamu memiliki blog. Pengisian pada kolom ini akan menambah 2 poin pada penilaian.
17. Kolom ESSAY, diisi dengan karya tulis/essay berisi hasil pemikiran kamu sendiri sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Panjang penulisan minimal 100 kata, maksimal 500 kata. Tema akan berubah setiap periode. Jenis tema akan diumumkan setiap tanggal 1 di periode tersebut.
Dilarang mengcopy paste tulisan orang lain. Jika bermaksud untuk menyadur atau mengutip tulisan orang lain, tuliskan juga sumbernya.
18.  Beasiswa akan dibagi menjadi 2 periode.
19.  Jika gagal di periode pertama, peserta BNLEH mendaftarkan diri di periode selanjutnya.
20.  Penerima beasiswa yang telah mendapat dana beasiswa di satu periode TIDAK DAPAT menjadi penerima beasiswa di periode selanjutnya. Peraturan ini berlaku di tahun 2012. Penerima beasiswa di tahun 2011 berhak mendaftar dan memiliki kemungkinan untuk menjadi penerima beasiswa di tahun 2012.
21.  Waktu per periode:
Periode 1: 1 Januari  – 30 Juni
Periode 2: 1 Juli – 31 Desember
22.  Perincian pemenang per periode sebagai berikut:
PERIODEJUMLAH PENERIMA DANA BEASISWA
@ Rp 1.000.000@ Rp 500.000@ Rp 250.000
Periode I50 orang50 orang250 orang
Periode II50 orang50 orang250 orang
23.  Penerima beasiswa akan diseleksi (bukan diundi) oleh tim dari DataPrint.
24.  Panitia tidak menghubungi penerima beasiswa. Nama penerima beasiswa  dapat dilihat di website ini, website DataPrint www.dataprint.do.id atau di www.facebook.com/dataprintindonesia . Simpan fotokopi raport terakhir atau IPK terakhir dan kupon sebagai bukti sah verifikasi jika Anda terseleksi sebagai penerima dana beasiswa.
25.  Dana beasiswa akan diberikan sekaligus dan secara langsung kepada penerima di periode tersebut.
26.  Dana beasiswa akan dikirimkan dalam jangka waktu paling lambat satu bulan setelah pengumuman dan atau setelah selesainya pemberkasan dari para penerima beasiswa.
27.  Beasiswa akan ditransfer melalui bank BCA. Bagi penerima beasiswa yang menggunakan rekening bank lain, biaya administrasi ditanggung penerima.
28.  Penerima beasiswa akan diumumkan di website DataPrint www.dataprint.co.id ,  page Facebook DataPrint www.dataprint.co.id/facebook danwww.beasiswadataprint.com
Tema Essay dapat dilihat di tab “ESSAY”
Pendaftaran periode 2 berakhir tanggal 31 Desember 2012.
Pengumuman tanggal 10 Januari 2013.
FAQ
1.  Siapakah yang boleh mendaftarkan diri di beasiswa DataPrint
Semua pelajar atau mahasiswa yang masih aktif
2.  Apa saja persyaratan mengikuti pendaftaran beasiswa DataPrint?
Cukup isi semua kolom di formulir registrasi dengan data yang sebenar-benarnya. Kalau kamu keluar sebagai salah satu penerima dana beasiswa, pihak DataPrint akan menghubungi kamu untuk melakukan verifikasi data.
3.  Apakah pendaftaran dipungut biaya?
Pendaftaran beasiswa sama sekali tidak dipungut biaya atau gratis.
4.  Berapa dana beasiswa yang akan saya terima?
Dana beasiswa akan diberikan sebesar Rp 1.000.000, Rp 500.000 dan Rp 250.000
Penentuan besaran dana beasiswa yang akan diterima ditentukan oleh tim DataPrint.
5.  Apakah penerima beasiswa di satu periode dapat menjadi penerima beasiswa lagi?
Tidak, penerima beasiswa yang sudah pernah menerima beasiswa tidak berhak menjadi penerima beasiswa di periode berikutnya.
6.  Bagaimana cara pemberian beasiswa?
Dana beasiswa akan ditransfer kepada penerima.
7.  Kapan beasiswa akan diterima?
Setelah verifikasi yang dilakukan oleh pihak DataPrint selesai atau kurang lebih satu bulan setelah pengumuman.
8.  Apakah beasiswa yang diterima akan terkena pajak?
Tidak, beasiswa yang diterima tidak dikenai pajak. Dana beasiswa akan ditransfer melalui rekening BCA. Bagi penerima beasiwa yang memiliki rekening selain BCA maka dana administrasi akan ditanggung penerima.
9.  Dimana pengumuman penerima beasiswa dapat dilihat?
Pengumuman dapat dilihat di website DataPrint www.dataprint.co.id , page Facebook DataPrint www.dataprint.co.id/facebook dan www.beasiswadataprint.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger