Tampilkan postingan dengan label Untuk HMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk HMI. Tampilkan semua postingan
CIVIL SOCIETY DALAM DUNIA KAMPUS
14.05
HMI Saintek

Oleh: Anwar Fauzi*- Istilah Civil society paa hakekatnya merupakan suatu istilah yang tidak begitu asing dalam benak pikiran kita. Kita sudah di perkenalkan dan diajarkan istilah Civil society sejak bangku SMP hingga bangku perkuliahan, yang termuat dalam mata kuliah Filsafat Pancasila atau Pendidikan Kewarga Negaraan. Akan tetapi tidak bayak dari kita yang memahami dan mengerti apa hakekatnya istilah Civil society ? dan untuk apa kita mempelajari civil society?
Civil society atau yang bisanya kita kenal dengan istilah masyarakat madani pada hakekatnya merupakan reformasi total terhadap masyarakat yang tak kenal hukum (lawness) dan terdapat supremasi kekuasaan pribadi seorang penguasa seperti yang selama ini menjadi pengertian yang umum tentang Negara. Civil society atau masyarakat berperadaban adalah masyarakat yang mempunyai semangat ketuhanan, demokratis yang berdasarkan check and balance antara Negara dan masyarakat, berkeadilan, dan bersandar pada kepatuhan dan tunduk kepada hokum (law and order). Sebagaimana yang dikatakan oleh Guseppe Di Palma bahwa masyarakat madani merupakan bagian organik system demokrasi, yang menempatkan posisinya dalam bentuk oposisi terhadap rezim-rezim absolutis.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki peradaban yang berdasarkan komitmen bersama, demi cita-cita bangsa yang luhur dan mulia. Dimana dengan komitmen bersama, cita-cita yang kita idam-idamkan barangkali akan akan menjadi kenyataan. Karena kita mengingat bahwa Indonesia diciptakan oleh imajinasi intelektual yang tersusun secara sistematis, sehingga arah yang menjadi tujuannya tidak akan meleset dari perkiraan semula. Sehingga Cak Nur sapaan akrab Nurholis
Madjid sangat otimistis bahwa Civil society merupakan lokomotif yang ideal untuk mewujudkan cita-cita bangsa demi kebaikan dan kemakmuran bersama.
Secara historis konsep civil society merupakan konsep yang bersal dari dunia barat, yaitu pada mulanya diperkenalkan oleh Cecero. Dan kemudian di bumingkan kembali oleh Fergusan pada abad ke-18, dalam rangka menanggalkan hegemoni pemerintah atau kerajaan yang otoriterian dan anti kritisizem. Dan sekarang ini, istilah Civil society telah mendunia dan konsepnya telah diterapkan diberbagai Negara yang salah satunya adalah Amerika Serikat. Dimana ide modern tentang civil society oleh John Locke digunakan dalam menyelesaikan problem social order yang muncul di akhir aba ke-17 M. Akan tetapi akar dasar dari pemikiran Civil Society itu sudah ada sejak abad ke-1 H yang di tandai dengan terbentukya kontitusi Madinah. Dima sosok figurnya disini adalah Rosulullah dia menciptakan negeri Madinah bagaikan surga dunia masyarakat. Dimana ia dapat membangun semangat demokratisasi masyarakat Madinah yang jauh dari peradaban. Dengan kehadiran Nabi di tengah-mereka keadilan, toleransi, dan kesejahteraan masyarakat Madinah dalam hubungan struktur masyarakatnya pada satu arah kemajuan yang menjanjikan. Sehingga John E. Esposito mengatakan bahwa Madinah yang dibawah bimbngan Muhammad semakin memperlihatkan kristalisasinya sebagai sebuah sitem sosio-politik.
Sehingga pola terbentuknya Civil Society atau masyarakat madani dalam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting, yang sejatinya merupakan cita-cita bersama untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadaban dan berperadaban. Sehingga Cak Nur mengatakan bahwa Civil Society adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yakni mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang menjunjung nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan bersifat inklusif dalam kehidupan sosialnya.
Lalu bagaimana kontek Civil society dalam kehidupan dunia kampus? Pada hakekatnya Civil society adalah suatu bentuk penyadaran masyarakat terhadap nilai-nilai independensi yang berlandaskan idealisme kebaikan bagi umat. Sehingga dalam hal ini peran seorang mahasiswa sangat dibutukan dalam rangka membentuk suatu peradaban yang ideal bagi masyarakat. Sebagaimana yang dikatan oleh Ibnu Kholdun bahwa inti dari sebuah peradaban adalah menejemen organisasi yang beradab. Yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, inklusifisme, dandemokratis.
Mahasiswa adalah masyarakat masyarakat terdidik, yang mempunyai keistimewaan pengetahuan secara formal di bandingkan dengan masyarakat biasa. Sehingga dalam perjalannya sejarah mahasiswa sangat berperan penting dalam membentuk peradaban dunia. Kita ketahui bahwa dalam perjalanan dinamika negeri Indonesia tidak lepas dari peranan mahasiswa. Mulai dari kemerdekaan, pembantaian anggota PKI, malaria, reformasi 1998. Sehingga peran mahasiswa sangat sentral dalam rangka pencerdasan masayarakat lainnya. Mahasiswa identik dengan agen perubahan dan agen social control, yang selalu menjadi gardan depan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Paradigm yang melekat inilah harus dapat menjadi cambuk ketika mahasiswa bersifat diabolisme kepada birokrasi kampus atau mahasiswa yang abai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan lalai dengan nilai-nilai naasionalisme yang diperjuangkan oleh pejuang kemerdekaan dahulu kala.
Sehingga mahasiswa haruslah mampu membuat kampus sebagai media dalam rangka penerapan dan pembentukan peradaban yang bercorak Civil society. Dimana corak Civil society yang mampu mereformasi mahasiswa yang pola pikirnya yang jahiliyah menuju corak pemikiran yang modern, yang cerah bagaikan matahari yang menyinari kehidupan alam raya. Dunia kampus yang erat dengan nuwansa intelektualisme, bermoral, dan pusat peradapan ilmu pengetahuan
harus tetap dekembangkan. Dinamisasi pengetahuan dan jiwa-jiwa kritis harus tetap melekat dalm diri mahasiswa. Janganlah dunia kampus ini berubah menjadi dunia yang haidon, prakmatis, anmoral, dan memuja-muja nilai-nilai formalitas belaka tanpa melihat hasil yang diperoleh selama menjabat sebagai mahasiswa.
Kampus harus bisa menanggalkan diabolis-diaboles intelektual yang cinta pada kekuasaan dan selalu menggandeng para birokrat yang serakah demi kepuasan kepintingan dirinya maupun kelompoknya. Kampus harus mempu mencentak kader-kader bangsa yang ideal yang bersifat independensi yang mampu membuka matanya dalam melihat realita social masyarakat. Yang mempunyai sifat reformis dan pantang mundur ketika melihat pendholiman yang terjadi di sekitarnya. Sehingga apa yang dicita-citakan oleh Prof. Dr. Imam Suprayoga yang menginginkan mahasiswanya menjadi singa-singa bangsa, yang tidak gentar menghadapi siapapun dan menjadi ispirator bagi lainnya, serta menjadi garden depan dalam mendobrak kedholiman.
Mahasiswa Prodi Al-Akhwal Al-Syakhsiyyah
Fakultas Syariah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
dan juga Kader HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang
URGENSI BERORGANISASI dan LATIHAN KADER I (LK-I)
17.08
HMI Saintek
LK-I (Latihan Kader) I merupakan sebuah step awal yang harus diikuti Mahasiswa untuk menjadi kader organisasi Himpunan Mahasiswa Islam atau yang leih dikenal dengan singkatan HMI ini. Didalamnya mahasiswa akan mendapatkan materi tentang KeHMIan, keIndonesiaan, dan keAgamaan. Ketiga materi menjadi sangat urgent untuk diketahui oleh seorang kader. Dewasa ini, Sifat apatis berorganisasi banyak menyerang para mahasiswa, seperti sebuah penyakit menular yang sulit untuk disembuhkan. HMI Komisariat Saintek UIN Malang, mencoba menumbuhkan semangat berorganisasi para mahasiswa dengan mengadakan LK-I. hal ini difikir menjadi sangat vital, karena mahasiswa menjadi bagian dari masyarakat civil society, yang selayaknya berjuang demi terciptanya masyarakat yang adil makmur, dan lahirlah platform setiap mahasiswa yaitu berjuang itu harga mati.
Ditelisik dari sejarah, HMI merupakan Organisasi Mahasiswa Islam Pertama di Indonesia. HMI lahir ditengah-tengah awal Kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 05 Februari 1947 atas Prakarsa Lafran Pane dengan 14 mahasiswa lainnya HMI didirikan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang akan menjadi generasi penerus bangsa, harus mampu mempertahankan Kemerdekaan. Dan membawa Indonesia kearah yang progresif. Perjuangan pendiri bangsa ini, mencapai klimaks dan akhirnya di proklamirkannya kemerdekaan Negara Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bangsa ini telah memulai lembaran baru sebagai Negara yang merdeka dengan harapan, tantangan dan semangat baru untuk mengisi kemerdekaan. Dari sinilah HMI lahir dengan tujuan mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.
HMI telah mendampingi bangsa, selama 66 tahun. Telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berperan aktif di IndonesiaHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan . Mulai dari tokoh politik, akademisi, Enterprenuer, intelektual, ilmuwan, maupun ulama dilahirkan dari organisasi ini. Sebagai organisasi perkaderan tentunya HMI akan terus menjadi wadah para mahasiswa yang memang benar-benar siap untuk berproses sehingga terciptanya stakeholder baru bangsa ini. Seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur), Munir, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Komarudin Hidayat, Malik Fadjar, dan masih banyak tokoh-tokoh lain lahir dari rahim HMI.
Sadar ataupun tidak Mahasiswa merupakan harapan bangsa ini. Apakah kita akan menjadi pengekor yang bangga di rumahnya atau akan menjadi seorang pelopor yang siap pertarung untuk masa depan bangsa. Jendral Soedirman berkata, “HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tetapi Harapan Masyarakat Indonesia”. Bagi mahasiswa penerus bangsa silahkan ikuti proses Latihan Kader 1 (LK1) untuk meneruskan tongkat estafet cita-cita kemerdekaan Bangsa bersama HMI.
ETIKA INDEPENDENSI, Demokrasi Tuhan terhadap Hakekat Manusia
18.32
HMI Saintek
Oleh : Luluk (HMI Koms. Psikologi)
Analogi sederhana, kalau kita ingin
tahu tentang mobil, maka bertanyalah pada yang membuat mobil. Kita akan tahu,
apa saja kerangka penyusunnya, dan apa tujuan pembuat mengadakan mobil tersebut.
tapi secara subjektif, yang kita lihat
dari luar mobil itu bangun yang
bentuknya tergantung pada yang membuat. Dan setelah masuk, ada banyak ruang
kosong yang tentunya mengikuti postur mobil.
Metafora dari analogi di atas,
adalah pada penciptaan manusia. untuk melepas unsur subjektivitas,berbicara
tentang manusia ya dengan wawncara
pada penciptanya. Inilah, yang dilakukan
malaikat ketika mendengar Tuhan akan menciptakan makhluk baru, pada waktu itu
Tuhan sebut dengan kata “Kholifah”
bukan dengan kata manusia. Bertanya malaikat pada Tuhan “ kenapa engkau
akan ciptakan di bumi makhluk yang akan menyebabkan kerusakan dan pertumpahan darah padahal, kami selalu
bertasabih kepadaMu?” Jawaban yang cukup menggelitik dari Tuhan, “ Sesungguhnya
aku tahu apa yang tidak engkau tahu.”
Dari hasil dialog tersebut, saya
menangkap karakter yang ada pada manusia
adalah manusia sebagai kholifah, sesuai dengan firman penciptanya, Inniy Jailun fil Ardhi Kholifah. Dan
manusia sebagai perusak dan penumpah darah . Namun, penggalian esensi diri ini,
secara pribadi saya tertantang dengan kata Inniy
a’lamu ma la ta’lamun. Apa yang Tuhan sembunyikan dengan menggunakan kata Aku tahu? Adakah esensi lain, yang
dimisterikan, selain yang diketahui malaikat, bahwa manusia sebagai perusak?
Bukan bermaksud membaca pemikiran
Tuhan. Sebelum terciptanya bumi, Tuhan
tentu sudah memiliki kehendak bahwa aka ada penghuni di dalamnya. Yang mewakili
dzatNya untuk mengatur seluruh isi bumi. Sesuai dengan sifatNya yang kekal, munculnya kehendak akan
penciptaan kholifah, mustahil Tuhan memikirkan setelah bumi itu ada. Karena itu
menunjukkan ketidak kekalan Tuhan itu sendiri. Dia telah memiliki perubahan
dalam kehendakNya. Terlebih muncul karena mahluk yang ia ciptakan sendiri.
Tuhan jauh dari hukum sebab akibat, maka kehendak penciptaan manusia sebagai
pengatur bumi, entah dengan keterengan waktu bagaimana, jelasnya kehendak akan
penciptaan bumi dan kehendak akan adanya kholifah di dalamnya, muncul secara
bersama. Dengan bahasa lain, bukan disebabkan Tuhan melihat bumi kosong
(Al-Ghazali:
Berbeda dengan kepemimpinan dalam
sistemik politik, yang mana pemimpin dipilih dengan melihat kemampuan, kholifah fil Ard adalah orang yang telah
diberi kemampuan untuk memimpin. dan memiliki kewajiban menjalankan
kepemimpinnya. Tuhan sangat demokratis dengan member bekal, member otonom
bagaimana memfungsikan bekal, dan lebih demokratis lagi Tuhan yang member
kepercayaan, maka Tuhan yang berhak menuntut terhadap Pertanggung jawabannya.
Singkatnya manusia memiliki
Independensi diri,dalam mengatur tanggung jawabnya. Jika kembali pada analogi
mobil di atas, Tuhan tidak memberi alat
kendali pada manusia, seperti halnya sopir pada mobil. Karena masing-masing
manusia telah diberi independensi, maka tidak ada manusia yang bertanggung
jawab terhadap manusia yang lain. Manusia berdiri sendiri, tanggung jawabnya
hanya pada Tuhan.
Dari konsep independensi tersebut,
maka substansi mendasar yang dimiliki
oleh manusia adalah Nurani, atau saya istilahakan dengan Etika Independensi. Etika yang menjadi bekal kepemimpinan. Etika
yang bearasal dari konsep dirinya sendiri dalam memberi penilaian terhadap
kehidupan. Jika selama hidupnya ada nilai lain yang menjadi paradigma dalam
hidupnya, maka nilai tersebut hanya tekanan dari lingkungan yang berada di luar
manusia. Maka ketika manusia mengikutinya, diakui atau tidak secara psikis akan
muncul adanya penolakan dari nurani manusia. namun nilai-nilai sistemik
tersebut, yang saya istilahkan dengan Etika
kolektif telah memenjarakan etika independensi mereka, dengan ancaman
konsekuensi berupa hukum masyarakat. Kalau manusia diciptakan sebagai pemimipin
dan memiliki bekal nurani yang telah berisi nilai dari Tuhan, kenapa harus
mengikti ide-ide sistemik yang bersasal dari luar dirinya. Kalau pada ahirnya,
manusia yang bertanggung jawab atas semua tingkahnya, kenapa harus memilih
pemimpin di luar dirinya, dan mengikuti ideologi yang diciptakan bersama,
karena jika itu salah di mata Tuhan, meskipun hanya sebagai pengikut, hukuman
Tuhan tetap berlaku. Jadi, berani saya katakana bahwa etika lingkungan harus
dihindari jika manusia tetap ingin mempertahankan independensinya.
Selama manusia belum mampu keluar
dari etika sistemik, maka saat itu manusia tidak mampu untuk merdeka. Ia hanya
menjadi boneka dari lingkungabutnnya.
Dan pencapaian kebutuhannya terhadap aktualisasi diri, sesungguhnya
adlah semu. Dia bukan mengaktualisasikan diri, tapi dia hanya jadi cermin
terhadap aktualisasi lingkungan yang menguasainya. Maka, ketika manusia ingin
mengejar eksistensi, bukan dengan cara mengikutu gerak waktu yang sejatinya
digerakkan oleh yang di luar dirinya, dan buka dengan menempati ruang yang
kebanyakan di sana manusia memiliki peran tidak sesuai dengan pribadinya.
Melainkan manusia harus mampu keluar dari pergerakan alur dan waktu tersebut,
dengan mampu mengerakkan alur dan waktu seseuai dengan etika yang dimilikinya.
Jadi, aktualisasi diri dinyatakan tercapai ketika manusia telah mampu
mengeksistensikan substansinya.
Untuk mampu keluar dari etika yang
tekolektifkan, maka langkahnya adalah, manusia harus berhenti menjadi alat dari
tujuan orang lain dan mengejar apa yang menjadi tujuan sendiri. Untuk itu, saya
berani menolak, konsep manusia sebagai makhluk sosial. Karena konsep ini bukan
membawa manusia untuk saling berkorban antara yang satu dengan yang lain,
melainkan hanya jadi ajang manusia saling dikorbankan untuk kepentingan masing-masing.
Kata “sosial”, telah memberi paradigma bahwa kebenaran adalah ketika mampu
menghanguskan kepentingan sendiri demi kepentingan orang lain.
Disebut sebagai makhluk sosial, akan
menjadikan menjadikan manusia sebagai pengemis. Ia akan menjadi produk zaman,
ia hanya diperbudak padahal ia diciptakan sebagai pemimpin, ia dibatasi
kebebasan berfikirnya padahal Tuhan menciptakan ia sebagai makhluk yang
berfikir, ia dipaksa untuk bertindak yang bertentangan dengan penilaian
rasionalnya sendiri, padahal Tuhan telah memberi dia nurani ebagai tolak ukur
akan nilai benar dan salah.
Manusia sosial hanya menciptakan
antara keputusan dan kebutuhan fitrah manusia. dan itu bukan kelompok sosial
melainkan massa yang dipersatukan oleh kekuasaan geng terlembaga. Manusia
sosial menghancurkan semua nilai kehidupan bersama manusia, tidak punya
justifikasi dan menggambarkan, bukan sumber nilai manfaat, melainkan ancaman
mematatikan bagi kelangsungan hidup manusia.
Tuhan melarang manusia untuk bunuh
diri. Tapi, manusia sosial menuntut mereka untuk mengorbankan diri. Pengorbanan
adalah penyerahan suatu nilai yang lebih besar demi nilai yang lebih kecil,
atau bahkan bisa disebut bukan nilai. Sebagai ilustrasi, manusia akan berkorban
untuk kepentingan cintanya. Padahal itu bukanlah pengorbanan untuk orang yang
ia cintai, melainkan ia hanya berkorban untuk kepentingan pribadinya karena
belum siap untuk ditinggalkan. Inilah yang saya maksud, dia rela mengorbankan
nilai harga dirinya, untuk hal yang berda di luar dirinya. Manusia punya
potensi untuk hidup sendiri, buktinya mereka punya kemampuan untuk berkorban
demi orang lain. Tetapi etika kolektif, menjadikan mereka hidup untuk orang
lain.
Kebajikan yang terlibat dalam
membantu orang yang dicintai, bukanlah pengorbanan. Melainkan lebih tepatnya
adalah integritas. Integritas adalah kesetiaan pada keyakinan dan nilai-nilai
sendiri. Ia adalah kebijakan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai orang
itu sendiri, kebijakan untuk mengekspresikan, mendukung dan menerjemahkan nilai-nilai
itu kedalam realitas.
Lalu bagaimana mengistilahkan
pemberian kepada orang asing? Itulah yang disebut dengan rasa hormat dan
kemauan baik atas nama nilai yang ada dalam dirinya sampai atau kecuali dia
kehilangan niali itu. Muhamad diutus tidak untuk belajar akhlak pada
lingkungannya, tetapi dia diutus dengan membawa bekal akhlak di dalam dirinya.
Seorang manusia rasional tidak lupa
bahwa kehidupan adalah sumber semua nilai dan karena itu ikatan umum antara
sesame makhluk adalah dengan menganggap bahwa orang lain sevara potensial dapat
mencapai kebajikan yang sama sebagaimana kebajikan dia sendiri dan dengan
demikian sangat bernilai bagi dia.
Ini berarti bahwa dia tidak berfikir
kehidupan manusia bisa saling dipertukarkan dengan kehidupan dia sendiri. Dia
mengakui fakta bahwa kehidupannya sendiri adalah sumber, bukan hanya bagi semua
nilai-nilainya, tapi bagi kemampuannya untuk member penilaian. Karena itu,
nilai yang ia berikan pada orang lain hanya merupakan suatu konsekuensi, suatu
eksistensi, dan suatu proyeksi sekunder dari nilai primer yang tidak lain
adalah diri dia sendiri.
Dia sendiri, saya tegaskan bahwa
untuk mencapai eksistensi, menjadi dia sendiri tidak dengan membawa ide
kolektif. Mengikuti ide kolektif manusia hanya akan diakui oleh ranah yang
semu, ranah yang sebenarnya adalah ketika manusia mamapu menyelami apa yang ada
dalam palung dirinya. Sebuah sisi spiritual, yang saya lebih suka sebut sebagai
nurani. Ranah semu dari ide kolektif memang menjadikan manusia diakau. Tapi itu
adalah tempat yang sesat. Ranah yang bukan menjadikan manusia bereksistensi.
Namun sebagai objek yang tubuhnya dipinjam untuk mengeksistensikan yang lain. Mereka
bukan menjadi diri sendiri tapi terdoktrin untuk membentuk diri sesuai ide
kolektif. Eksistensi adalah ketika tubuh dan jiwa menjadi satu. Bukan ketika
tubuh melakukan afektif tertentu. Tapi nurani menolaknya.
Manusia tidak pernah memiliki ide bawaan, tapi ide
kolektif telah menormakan mereka untuk mengenakannya. Ide bawaan atau rasisme
yang mengaitkan signifikansi moral dengan garis keturunan genetis
seseorang,gagasan bahwa cirri karakterologis dan intelektual seseorang
dihasilkan dan diwriskan oleh kimia tubuh internalnya mengakibatkan sesorang
dihakimi, bukan dengan karakter dan tindakannya sendiri, tapi dengan karakter
dan tindakan kolektif nenek moyang ini sama saja ide bawaan, bukan hanya
mewariskan ide tapi mewariskan dosa.
Rasisme mengklaim bahwa isi pikiran manusia adalahh
diwariskan, bahwa keyakinan, nilai dan karakter seseorang ditentukan sebelum
dia lahir, oleh factor-faktor fisik di luar kontrolnya. Inilah yang mematikan
sifat-sifat spesifik yang membedakan manusia dari semua spesiesnya. Dengan cara
mematikan rasionalanya Baik dan buruk manusia bukan dinilai dari dirinya saat
itu tapi dilihat dari silsilah keluarganya. Inilah yang saya maksud bahwa dia
tidak bereksistensi, dengan ide kolektif manusia hanya mengeksistensikan
ide-ide kelompok dan ide nenek moyang, padahal Tuhan juga member dia nilai.
Manusia terlahir secara Tabula Rasa, mereka adalah latar putih.
Dalam penciptaannya Tuhan telah membekali dengan sisi spiritual. Tapi
lingkungan ada yang baik dan yang buruk. Bukan karena Tuhan menciptkan mereka
buruk. Tapi karena konsep nilai etika setiap manusia bukan untuk dikolektifkan,
tapi untuk dijalankan secara independen dari yang ia pikirkan.
Ketika
kamu mengikuti pemikiran orang lain, maka sejak saat itulah kamu menjauh dari
dirimu sendiri. Tetapi sekalipun kamu sudah mengikuti apa yang menjadi jalan
pikirmu. Kamu belumlah bisa disebut sebagai kamu. Itu masih proses menuju kamu.
Dengan kata lain, itu hanya sekedar mengkamu..
Itulah
spasi anata hakekat dan eksistensi manusia. eksistensi hanyalah jembatan, dan
belum mencapai siapa sebenarnya manusia. karena di dalam eksistensi masih terdapat
proses yang mana eksistensi sendiri bukanlah garis ahir. Ada waktu yang
senantiasa bergerak, dan ruang yang senantiasa meluas.
Aku
adalah aku ketika aku keluar dari
eksistensiku, yaitu di saat ruang dan waktu tidak lagi menjadi pengendali.
Diskusi
Filsafat Manusia
Dibedah
Dari Buku “Kebajikan sang Diri”
Tujuan HMI
00.05
HMI Saintek
TUJUAN HMI
By Himpunan Mahasiswa Islam
Tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 4 AD HMI) adalah sebagai berikut :
1. Kualitas Insan Akademis
· Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
· Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
· Sanggung berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
2. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
· Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
· Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
· Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
· Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
· Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
· Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.
4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan Islam
· Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menapasi dan menjiwai karyanya.
· Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :
· Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
· Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
· Spontan dalam menghadapi tugas, responsip dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
· Rasa tanggungjawab, takwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam me wujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
· Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
· Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooferatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal type dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “Idea of Progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)
Dari liam kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.
Yang dimaksud dengan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT adalah masyarakat yang menjalankan kehidupannya selalu berlandaskan atas asas keadilan sehingga tercapai kemakmuran dan dalam perjalanan pencapaian masyarakat adil makmur tersebut tidak mendobrak aturan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an sehingga adil makmur yang dicapai oleh masyarakat meruapak adil makmur yang dikehendaki oleh Allah SWT. Jadi setiap usaha dalam pencapaian masyarakat adil makmur harus berpedoman pada ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Hymne HMI
22.28
HMI Saintek
bersyukur dan ikhlas
himpunan mahasiswa islam
yakin usaha sampai
untuk kemajuan
hidayah dan taufik
bahagia HMI...
berdoa dan ikhlas
menjungjung tinggi siar islam
turut qur'an dan hadist
jalan keselamatan
ya Allah berkati..
bahagia HMI....
himpunan mahasiswa islam
yakin usaha sampai
untuk kemajuan
hidayah dan taufik
bahagia HMI...
berdoa dan ikhlas
menjungjung tinggi siar islam
turut qur'an dan hadist
jalan keselamatan
ya Allah berkati..
bahagia HMI....
HMI: Lembaga Pencetak Peradaban
21.42
HMI Saintek
- Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar : 18)
Himpunan mahasiswa Islam atau yang akrab dengan HMI. Organisasi yang dibangun di Yogyakarta oleh Lafran Pane dan rekannya telah ada sejak 65 tahun lalu (februari, 05-1947). HmI lahir dari rahim kemerdekaan, adik kandung bangsa Indonesia. Disini, di organisasi ini, Kita diajarkan tentang bagaimana berpikir rasional dan kritis. Kita mesti mempunyai landasan kerangka berpikir. Tidak serta-merta menerima mentah-mentah pemikiran atau konsepsi yang ada dan akan ada. Jika tidak, maka agama, pemikiran, konsepsi dan budaya hanya akan menjadi dogma. Persis, seperti yang dikatakan Karl Marx berabad silam. Dogma yang hanya menjadi pemaksaan, titipan dan warisan pemikiran dari neneka moyang belaka.
Anologi sebuah minuman, Kita tidak boleh menjustifikasi bahwa susu lebih nikmat ketimbang kopi, padahal Kita belum sama sekali mencicipi setetes saja kopi tersebut. Itu tidak berimbang, itu tidak adil. Kita tidak bisa menjustifikasi bahwa ajaran yang ini lebih benar ketimbang ajaran itu, tanpa mempelajari keduanya terlebih dahulu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Darinya itu, metode komparatif perlu Kita lakukan. Sebuah metode yang memperbandingkan dua atau lebih obyek perbandingan. Itulah gunanya belajar, inilah gunanya membaca. Apakah sejauh ini, perkataan saya tidak rasional ? Jika konyol, mohon tinggalkan ! Jika Anda sepakat, mari Kita lanjutkan :
Sejujurnya, saya amat berterima kasih kepada HmI yang telah memperkenalkan saya lebih akrab dengan buku. Membaca menjadi begitu penting. Setidaknya, hal ini yang membedakan manusia dengan binatang. Wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah perintah membaca (QS. Al-alaq: 1). Di HmI, kami bersaing dengan diri sendiri untuk lebih cerdas lagi. Parameternya sederhana, siapa yang lebih banyak daftar pustakanya, maka Ia yang lebih tampan. Jadi, Kita dinilai dari ketebalan bahan bacaan. Kami selalu ngiler dan sakau bila melihat ada buku tak bertuan. Jika gadget atau dompet Anda tertinggal di sekertariat HmI, tenanglah itu tidak akan hilang. Tapi, jika buku Anda yang tertinggal. 1, 2, 3 detik pasti sudah raib disambar makhluk tak halus. Hingga-hingga muncullah sebuah pepatah baru : ” Sebodoh-bodohnya orang yang meminjamkan bukunya, lebih bodoh lagi peminjam yang mengembalikan buku pinjamannya “.
HMI adalah lembah pencetak peradaban. kita ditempa untuk menjadi kader yang cerdas dengan buku dan analisa. Yang lain bisa bermain domino, tapi kami merencanakan efek domino sebuah revolusi. Yang lain bisa galau di media sosial. Tapi kami galau jika melupakan realitas sosial. Kami percaya, islam bukanlah agama individualistis. Islam mengajarkan kepekaan sosial. Dibalik tanggung jawab pribadi, ada tanggung jawab sosial. Dibalik dosa pribadi, ada dosa sosial. Inilah alasan mengapa kami sering turun ke jalan. Atau paling tidak, melawan lewat kata.
Memang, tidak semua kader HMI adalah pahlawan-pahlawan bangsa. Ada juga yang ujung-ujungnya jadi koruptor. Tapi tidak sedikit kader HMI yang memberi andil untuk membangun peradaban, agama dan bangsa. Jusuf Kalla contohnya. Jangan karena segaris luka gores di kaki, kecantikan berubah menjadi keburukan. Hanya Tuhan yang Maha sempurna. Rasulullah SAW. bersabda : Islam itu tinggi, dan tiada yang dapat menandingi ketinggiannya (HR. Ad-daraquthni). Jadi, ajaran islam yang tinggi, bukan muslim (penganutnya). Lihatlah kemurnian dan kesempurnaan ajaran, bukan pada kader atau penganutnya. Adalah kesalahan berpikir, bila Kita berlaku over generalis. Islam dan HMI tidak akan rusak, seburuk apapun perilaku kader dan penganutnya. Intinya, pelajari ajarannya, bukan manusianya.
Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh kader HMI, termasuk penulis. Basis Kita hanya tertuju pada politic oriented. Klimaksnya adalah jabatan dan politik di pemerintahan atau organisasi. Kita seakan melupakan Need for Achievementdan Need for Affiliate. Kita terlalu ambisi terhadap Need for Power. Pemimpin itu karakter bukan jabatan. Karakter yang dibangun oleh pribadi yang tak pernah berhenti belajar. Pemimpin adalah konsekwensi, bukan orientasi. Konsekwensi bagi pribadi yang selalu tulus mengabdi dan melayani. Kita juga masih jumawa di bidang agama. Sementara mandul pada disiplin ilmu masing-masing. Jika Kita bisa lebih prestatif dan aplikatif terhadap ilmu, Kita telah memenuhi janji Insan Cita. Insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Itulah tujuan Kita.
Manusia yang berilmu ditinggikan derajatnya dua kali lipat. Namun, manusia berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, pertanggung jawabannya juga dua kali lipat. Khittah perjuangan HmI dapat disimpul dalam tiga kata saja : Beriman-Berilmu-Beramal. Bulan ini adalah bulan cinta, Kita harus merayakannya. Karena pada bulan ini, Nabi Muhammad SAW. yang penuh cinta dan kasih sayang, dilahirkan. Bulan ini adalah bulan perjuangan. Kita harus menyerukannya. Karena pada bulan ini, Organisasi HMI yang tak kenal lelah berjuang, didirikan. Yakin usaha sampai. Allahumma Shalli ‘Aala Muhammad, wa aali Muhammad !
- Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. (Qs. Ar-Ra’d: 11).
Wallahu a’lam.
SBY-Boediono dan Program Kerja 100 Harinya
17.48
HMI Saintek
Refleksi 100 hari program kerja pasangan SBY-Boediono, tanggal 20 Oktober 2009 - 28 Januari 2010.
Kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia tentu ingat dan hafal betul dengan tradisi janji-janji politik yang kemudian menjadi penarik massa untuk menjadikan calon sebagai pemimpin. Ada sebagian yang menaruh harapan besar terhadap janji tersebut, bahkan ada juga yang apriori dan cenderung acuh tak acuh. Namun, sebagai masyarakat yang telah lama menantikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, adil dan makmur tentu menginginkan janji politik tersebut bukan hanya sebagai argumentasi politik saja, melainkan lebih ke wilayah praktek lapangan dan kebijakan yang mampu mewujudkan harapan masyarakat bangsa Indonesia.
Hal ini sama dengan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009, dimana tampil sebagai pemenang adalah duet pasangan SBY-Boediono, menyingkirkan lawan-lawannya yaitu JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Dalam Pilpres, sebagai calon pemimpin bangsa ini harus mempunyai visi dan misi yang jelas terhadap pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Visi dan misi tersebut kemudian dijadikan landasan program kerja pemerintahan selama kurun waktu kepemimpinan.
SBy-Boediono dalam janji politiknya, menyebutkan 5 pondasi kebijakan sebagai desain pemerintahan 5 tahun mendatang. Dari 5 pondasi tersebut, dalam dokumen visi dan misi pasangan SBY-Boediono kemudian dikembangkan menjadi 13 program kerja pemerintahan. Program kerja tersebut antara lain:
Berkaitan dengan program kerja di atas, terjadi perdebatan yang sangat mencolok antara konsep ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neoliberal, dimana kemudian pasangan SBY-Boediono memakai konsep "Jalan tengah" sehingga visi misi yang dilontarkan menjadi abstrak. Kenapa demikian? Dalam melaksanakan program, seorang pemimpin harus memiliki prioritas, karena dengan mengambil konsep "jalan tengah" seolah-olah ingin melepaskan diri perdebatan yang muncul. Secara paradigma memang ini berpengaruh terhadap pembangunan bangsa, namun yang menjadi permasalah di sini adalah pembangunan menjadi tidak populis dan cenderung memunculkan elitis-elitis baru.
Kemudian, dalam pidato pengukuhan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober 2009, pasangan ini juga memunculkan tradisi yang sebelumnya juga pernah dilakukan dengan duet berbeda, yaitu program kerja 100 hari. Di antara program kerja 100 presiden tersebut adalah:
Dalam pidato tersebut juga disebutkan bahwa, program kerja 100 hari adalah sebagai batu pijakan dalam pembangunan 5 tahun mendatang. Sepeti dilansir dari pidato tersebut, orientasi kebijakan pembangunan kabinet adalah pembangunan untuk semua dan bukan untuk kelompok serta golongan. Berkaitan dengan itu, SBY juga menyinggung upaya mencapai pembangunan untuk semua itu haruslah didukung oleh kerja kabinet yang profesional. Sementara, fakta menunjukkan berbeda. Adanya akomodasi jatah kabinet dari pihak lawan tentu mengisyaratkan aroma kompromi politik agar pemerintahan tidak diganggu di tengah jalan.
Meskipun ada banyak permasalahan lain, seperti sikap tempramental koruptif masih meraja lela, ganti pejabat ganti mobil dinas, mafia hukkum masih berkeliaran, proyek pembangunan ala kadarnya, dan sebagainya, tidak lantas menghilangkan makna dari program kerja 100 Presiden. Harapannya 100 hari tidak hanya menjadi angin lalu dan angin surga yang meninabobokan kita, masyarakat bangsa Indonesia.(*)
Abdul Muis
(Sekum HMI Korkom UIN Malang, Periode 2007-2008)
Kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia tentu ingat dan hafal betul dengan tradisi janji-janji politik yang kemudian menjadi penarik massa untuk menjadikan calon sebagai pemimpin. Ada sebagian yang menaruh harapan besar terhadap janji tersebut, bahkan ada juga yang apriori dan cenderung acuh tak acuh. Namun, sebagai masyarakat yang telah lama menantikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, adil dan makmur tentu menginginkan janji politik tersebut bukan hanya sebagai argumentasi politik saja, melainkan lebih ke wilayah praktek lapangan dan kebijakan yang mampu mewujudkan harapan masyarakat bangsa Indonesia.Hal ini sama dengan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009, dimana tampil sebagai pemenang adalah duet pasangan SBY-Boediono, menyingkirkan lawan-lawannya yaitu JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Dalam Pilpres, sebagai calon pemimpin bangsa ini harus mempunyai visi dan misi yang jelas terhadap pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Visi dan misi tersebut kemudian dijadikan landasan program kerja pemerintahan selama kurun waktu kepemimpinan.
SBy-Boediono dalam janji politiknya, menyebutkan 5 pondasi kebijakan sebagai desain pemerintahan 5 tahun mendatang. Dari 5 pondasi tersebut, dalam dokumen visi dan misi pasangan SBY-Boediono kemudian dikembangkan menjadi 13 program kerja pemerintahan. Program kerja tersebut antara lain:
- Melanjutkan program pendidikan nasional,
- kesehatan masyarakat,
- program penuntasan kemiskinan,
- menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja bagi Rakyat Indonesia,
- melanjutkan program pembangunan infrastruktur perekonomian Indonesia,
- meningkatkan ketahanan pangan dan swasembada beras, gula, jagung, dsb;
- menciptakan ketahanan energi dalam menghadapi krisis energi dunia,
- menciptakan good governmentdan good corporate governance,
- melanjutkan proses demokratisasi,
- melanjutkan pelaksanaan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,
- pengembangan teknologi,
- perbaikan lingkungan hidup,
- dan pengembangan budaya bangsa.
Berkaitan dengan program kerja di atas, terjadi perdebatan yang sangat mencolok antara konsep ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neoliberal, dimana kemudian pasangan SBY-Boediono memakai konsep "Jalan tengah" sehingga visi misi yang dilontarkan menjadi abstrak. Kenapa demikian? Dalam melaksanakan program, seorang pemimpin harus memiliki prioritas, karena dengan mengambil konsep "jalan tengah" seolah-olah ingin melepaskan diri perdebatan yang muncul. Secara paradigma memang ini berpengaruh terhadap pembangunan bangsa, namun yang menjadi permasalah di sini adalah pembangunan menjadi tidak populis dan cenderung memunculkan elitis-elitis baru.
Kemudian, dalam pidato pengukuhan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober 2009, pasangan ini juga memunculkan tradisi yang sebelumnya juga pernah dilakukan dengan duet berbeda, yaitu program kerja 100 hari. Di antara program kerja 100 presiden tersebut adalah:
- Pemberantasan mafia hukum,
- revitalisasi industri pertahanan,
- penanggulangan terorisme,
- kesediaan listrik,
- peningkatan produksi dan ketahanan pangan,
- revitalisasi pabrik pupuk dan gula,
- penataan tanah dan ruang,
- peningkatan infrastruktur,
- peningkatan pinjaman Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah,
- pendanaan,
- penanggulangan perubahan iklim dan lingkungan,
- reformasi kesehatan dengan mengubah paradigma masyarakat,
- reformasi pendidikan,
- kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana alam, dan
- koordinasi erat pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan di segala bidang.
Dalam pidato tersebut juga disebutkan bahwa, program kerja 100 hari adalah sebagai batu pijakan dalam pembangunan 5 tahun mendatang. Sepeti dilansir dari pidato tersebut, orientasi kebijakan pembangunan kabinet adalah pembangunan untuk semua dan bukan untuk kelompok serta golongan. Berkaitan dengan itu, SBY juga menyinggung upaya mencapai pembangunan untuk semua itu haruslah didukung oleh kerja kabinet yang profesional. Sementara, fakta menunjukkan berbeda. Adanya akomodasi jatah kabinet dari pihak lawan tentu mengisyaratkan aroma kompromi politik agar pemerintahan tidak diganggu di tengah jalan.
Meskipun ada banyak permasalahan lain, seperti sikap tempramental koruptif masih meraja lela, ganti pejabat ganti mobil dinas, mafia hukkum masih berkeliaran, proyek pembangunan ala kadarnya, dan sebagainya, tidak lantas menghilangkan makna dari program kerja 100 Presiden. Harapannya 100 hari tidak hanya menjadi angin lalu dan angin surga yang meninabobokan kita, masyarakat bangsa Indonesia.(*)
Abdul Muis
(Sekum HMI Korkom UIN Malang, Periode 2007-2008)
Integrasi Pendidikan Ala Pemikiran Kapitalisme
20.32
HMI Saintek
Oleh : Nurisul Ubbat*
Problematika mendasar dari bangsa Indonesia ini sebetulnya tidak terlepas dari beberapa masalah seperti pendidikan, kemiskinan, kesejahteraan dan pekerjaan. Dai semua permasalahan tertsebut pada akhirnya bermuara pada satu poros yaitu ekonomi. Hal tersebut tidak terlepas dari tingkat kepentingan keempat permasalahan tersebut dalam kehidupan manusia, bahkan tak ayal hal yang mendasar itu dijadikan sebuah landasan teori bagi para politikus dalam mencapai tujuannya dalam berpolitik dengan megnobral janji terkait dengan solving dari permasalahan yang mendasar itu.Sungguh dramatis memang tapi itulah paradigma yang terjadi di bangsa kita yang dewasa ini tidak terlalu kita hiraukan. Padahal jika hal ini kita biarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan banyak permasalahan susulan yang secara simultan akan menghampiri negara Indonesia karena penyikapan awal yang dianggap kurang intensif dalam mengatasi masalah tersebut.
Pendidikan salah satu pondasi terbentuknya idiologi bangsa seharusnya bisa dijadikan penawar dari problematika yang ada. Hari pendidikan nasional yang selalu kita rayakan pada tanggal 2 mei merupakan salah satu contoh kecil tragisnya kehidupan pendidikan bangsa Indonesia, bagaimana tidak, sebuah ritual yang selalu kita rayakan tiap tahunnya sampai sekarang masih belum terasa pengaplikasiannya. Karena banyak problematika yang ada didalam lingkup interen pendidikan itu sendiri yang masih kita jumpai dan masalah itu merupakan masalah klasik yang mana satu sama lain memiliki hubungan yang sifatnya saling mempegaruhi. Pendidikan sampai saat ini masih dinilai sangat mahal bagi rakyat, pendidikan Indonesia masih jauh dari standar sehingga lulusan lembaga pendidikan kita masih dianggap kurang berkompeten dalam menyikapi era global, era dimana kita harus menghadapi sebuah pemikiran bahwasannya kita tidak boleh jadi objek atau korban dari perubahan itu melainkan kita harus bisa menjadi yang menentukan perubahan itu.
Salah satu contoh real dari ralasi antara problematika itu adalah adanya hubungan saling mempengaruhi antara sistem pendidikan dengan sektor kesehatan, sebagaimana kita tahu pendidikan di Indonesia yang orientasinya ke dunia kesehatan sangatlah mahal, jurusan kedokteran yang menjadi jalan seorang mahasiswa dalam meraih cita-citanya dimasa akan datang harus dibayar dengan tidak sedikit materi dan secara tidak langsung hal itu membuktikan bahwa betapa sistem pendidikan kita masih sedikit menganut paham kapitalisme yang orientasinya hanya sebatas materi saja. Karena tanpa mereka sadar bahwa mekanisme tersebut apabila dibiarkan berlarut-larut akan menciptakan sebuah pemikiran terhadap para sarjanawan muda dibidang kesehatan merasa harus mengembalikan banyak uang yang telah ia keluarkan dalam masa studinya sehingga polemik yang akan dihadapi rakyat yang terbaru adalah mahalnya pengobatan dan hal itu akan sangat membebani rakyat. Dan itulah system yang masih kita anut sampai sekarang, ideologi dokter kita masih hanya terbatas materi saja tanpa memikirkan hidup sosialnya.
Sistem pendidikan negara kita butuh banyak belajar dari negara-negara di Arab. Sedikit membandingkan salah satu negara disana menganut sebuah mekanisme dimana jurusan yang berorientasi ke bahasa dan sastra lebih mahal dari jurusan yang berorientasi ke dunia kesehatan. Dan dampak yang ditimbulkan dari itu adalah tidak akan adanya sebuah pemikiran bahwasannya para sarjanawan dibidang kesehatan tidak harus berambisi untuk mengembalikan uang pendidikannya dan polemik mengenai kesehatan yang dinilai mahal bisa dituntaskan. Apakah negara kita akan terpaku dengan ideologi yang menggambarkan sebuah sistem kapitalisme bagi para pelakunya namun mereka tidak pernah menyadarinya.
*: Kader HMI SAINTEK UIN Malang, Angkatan LK-1 Tahun 2009
Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika 2009 UIN Maliki Malang
Selamat Tahun Baru 2010
16.47
HMI Saintek
Selamat untuk Arif Mustofa menjadi Ketua PB HMI
04.29
HMI Saintek
Selamat atas terpilihnya Arif Mustofa menjadi Ketua Pengurus Besar (PB) HMI yang baru untuk periode 2008-2010.
Kami berharap dengan hadirnya kepemimpinan yang baru akan membawa ruh perjuangan dan semangat yang baru pula. Kami tidak ingin perubahan di HMI hanya terjadi pada perubahan individu, bukan semangat mendobrak tradisi-tradisi negatif menuju perubahan yang berarti. Mengingat bangsa ini sangat membutuhkan generasi-generasi yang mampu membawa pada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
Kongres HMI ke-26 yang dibuka sejak tanggal 28 Juli 2008 dan berakhir pada tanggal 5 Agustus 2008 akhirnya mengukuhkan Arip Mustofa. Arip Musthopa, lahir di Bogor 7 Juli 1979. Saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana ilmu politik Universitas Indonesia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjananya di Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung dengan judul skripsi Analisis tentang Perdebatan Oposisi Politik di Indonesia.
Sejak Desember 1997, beliau aktif di HMI Cabang Bandar Lampung melalui Komisariat Sospol Universitas Lampung. Keaktifannya ber-HMI menghantarkannya menjadi Ketum HMI Cabang Bandar Lampung periode 2002-2003 dan saat ini menjabat Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HMI periode 2006-2008. Selain aktifis ektra kampus, Arip juga aktif di intra kampus yang menghantarkannya menjadi Sekretaris Redaksi LPM Republica FISIP Unila 1998-99, pendiri dan Koordinator Umum LSSP Cendekia FISIP Unila 1999-2000, dan Presiden DEM FISIP Unila 2000-2001. Selain menjadi aktifis dan menyelesaikan studi pasca sarjananya, sejak tahun 2004, Arip bekerja di DPR RI. Saat ini beliau merupakan salah satu Tenaga Ahli Komisi VII DPR RI
Arip Mustofa Memenangkan proses kongres HMI setelah putaran pertama didukung oleh 35 cabang dan dikukuhkan dengan 181 suara setelah putaran ke-2.
Kami berharap dengan hadirnya kepemimpinan yang baru akan membawa ruh perjuangan dan semangat yang baru pula. Kami tidak ingin perubahan di HMI hanya terjadi pada perubahan individu, bukan semangat mendobrak tradisi-tradisi negatif menuju perubahan yang berarti. Mengingat bangsa ini sangat membutuhkan generasi-generasi yang mampu membawa pada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
Kongres HMI ke-26 yang dibuka sejak tanggal 28 Juli 2008 dan berakhir pada tanggal 5 Agustus 2008 akhirnya mengukuhkan Arip Mustofa. Arip Musthopa, lahir di Bogor 7 Juli 1979. Saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana ilmu politik Universitas Indonesia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjananya di Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung dengan judul skripsi Analisis tentang Perdebatan Oposisi Politik di Indonesia.
Sejak Desember 1997, beliau aktif di HMI Cabang Bandar Lampung melalui Komisariat Sospol Universitas Lampung. Keaktifannya ber-HMI menghantarkannya menjadi Ketum HMI Cabang Bandar Lampung periode 2002-2003 dan saat ini menjabat Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HMI periode 2006-2008. Selain aktifis ektra kampus, Arip juga aktif di intra kampus yang menghantarkannya menjadi Sekretaris Redaksi LPM Republica FISIP Unila 1998-99, pendiri dan Koordinator Umum LSSP Cendekia FISIP Unila 1999-2000, dan Presiden DEM FISIP Unila 2000-2001. Selain menjadi aktifis dan menyelesaikan studi pasca sarjananya, sejak tahun 2004, Arip bekerja di DPR RI. Saat ini beliau merupakan salah satu Tenaga Ahli Komisi VII DPR RI
Arip Mustofa Memenangkan proses kongres HMI setelah putaran pertama didukung oleh 35 cabang dan dikukuhkan dengan 181 suara setelah putaran ke-2.






