Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

HMI: Lembaga Pencetak Peradaban


  • Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar : 18)
Himpunan mahasiswa Islam atau yang akrab dengan HMI. Organisasi yang dibangun di Yogyakarta oleh Lafran Pane dan rekannya telah ada sejak 65 tahun lalu (februari, 05-1947). HmI lahir dari rahim kemerdekaan, adik kandung bangsa Indonesia. Disini, di organisasi ini, Kita diajarkan tentang bagaimana berpikir rasional dan kritis. Kita mesti mempunyai landasan kerangka berpikir. Tidak serta-merta menerima mentah-mentah pemikiran atau konsepsi yang ada dan akan ada. Jika tidak, maka agama, pemikiran, konsepsi dan budaya hanya akan menjadi dogma. Persis, seperti yang dikatakan Karl Marx berabad silam. Dogma yang hanya menjadi pemaksaan, titipan dan warisan pemikiran dari neneka moyang belaka.
Anologi sebuah minuman, Kita tidak boleh menjustifikasi bahwa susu lebih nikmat ketimbang kopi, padahal Kita belum sama sekali mencicipi setetes saja kopi tersebut. Itu tidak berimbang, itu tidak adil. Kita tidak bisa menjustifikasi bahwa ajaran yang ini lebih benar ketimbang ajaran itu, tanpa mempelajari keduanya terlebih dahulu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Darinya itu, metode komparatif perlu Kita lakukan. Sebuah metode yang memperbandingkan dua atau lebih obyek perbandingan. Itulah gunanya belajar, inilah gunanya membaca. Apakah sejauh ini, perkataan saya tidak rasional ? Jika konyol, mohon tinggalkan !  Jika Anda sepakat, mari Kita lanjutkan :
Sejujurnya, saya amat berterima kasih  kepada HmI yang telah memperkenalkan saya lebih akrab dengan buku. Membaca menjadi begitu penting. Setidaknya, hal ini yang membedakan manusia dengan binatang. Wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah perintah membaca (QS. Al-alaq: 1). Di HmI, kami bersaing dengan diri sendiri untuk lebih cerdas lagi. Parameternya sederhana, siapa yang lebih banyak daftar pustakanya, maka Ia yang lebih tampan. Jadi, Kita dinilai dari ketebalan bahan bacaan. Kami selalu ngiler dan sakau bila melihat ada buku tak bertuan. Jika gadget atau dompet Anda tertinggal di sekertariat HmI, tenanglah itu tidak akan hilang. Tapi, jika buku Anda yang tertinggal. 1, 2, 3 detik pasti sudah raib disambar makhluk tak halus. Hingga-hingga muncullah sebuah pepatah baru : ” Sebodoh-bodohnya orang yang meminjamkan bukunya, lebih bodoh lagi peminjam yang mengembalikan buku pinjamannya “.

HMI adalah lembah pencetak peradaban. kita ditempa untuk menjadi kader yang cerdas dengan buku dan analisa. Yang lain bisa bermain domino, tapi kami merencanakan efek domino sebuah revolusi. Yang lain bisa galau di media sosial. Tapi kami galau jika melupakan realitas sosial. Kami percaya, islam bukanlah agama individualistis. Islam mengajarkan kepekaan sosial. Dibalik tanggung jawab pribadi, ada tanggung jawab sosial. Dibalik dosa pribadi, ada dosa sosial. Inilah alasan mengapa kami sering turun ke jalan. Atau paling tidak, melawan lewat kata.
Memang, tidak semua kader HMI adalah pahlawan-pahlawan bangsa. Ada juga yang ujung-ujungnya jadi koruptor. Tapi tidak sedikit kader HMI yang memberi andil untuk membangun peradaban, agama dan bangsa. Jusuf Kalla contohnya. Jangan karena segaris luka gores di kaki, kecantikan berubah menjadi keburukan. Hanya Tuhan yang Maha sempurna. Rasulullah SAW. bersabda : Islam itu tinggi, dan tiada yang dapat menandingi ketinggiannya (HR. Ad-daraquthni). Jadi, ajaran islam yang tinggi, bukan muslim (penganutnya). Lihatlah kemurnian dan kesempurnaan ajaran, bukan pada kader atau penganutnya. Adalah kesalahan berpikir, bila Kita berlaku over generalis. Islam dan HMI tidak akan rusak, seburuk apapun perilaku kader dan penganutnya. Intinya, pelajari ajarannya, bukan manusianya.
Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh kader HMI, termasuk penulis. Basis Kita hanya tertuju pada politic oriented. Klimaksnya adalah jabatan dan politik di pemerintahan atau organisasi. Kita seakan melupakan Need for Achievementdan Need for Affiliate. Kita terlalu ambisi terhadap Need for Power. Pemimpin itu karakter bukan jabatan. Karakter yang dibangun oleh pribadi yang tak pernah berhenti belajar. Pemimpin adalah konsekwensi, bukan orientasi. Konsekwensi bagi pribadi yang selalu tulus mengabdi dan melayani. Kita juga masih jumawa di bidang agama. Sementara mandul pada disiplin ilmu masing-masing. Jika Kita bisa lebih prestatif dan aplikatif terhadap ilmu, Kita telah memenuhi janji Insan Cita. Insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Itulah tujuan Kita.
Manusia yang berilmu ditinggikan derajatnya dua kali lipat. Namun, manusia berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, pertanggung jawabannya juga dua kali lipat. Khittah perjuangan HmI dapat disimpul dalam tiga kata saja : Beriman-Berilmu-Beramal. Bulan ini adalah bulan cinta, Kita harus merayakannya. Karena pada bulan ini, Nabi Muhammad SAW. yang penuh cinta dan kasih sayang, dilahirkan. Bulan ini adalah bulan perjuangan. Kita harus menyerukannya. Karena pada bulan ini, Organisasi HMI yang tak kenal lelah berjuang, didirikan. Yakin usaha sampai. Allahumma Shalli ‘Aala Muhammad, wa aali Muhammad !
  • Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum   mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. (Qs. Ar-Ra’d: 11).
Wallahu a’lam.

Download "Buku Ilusi Negara Islam"

Buku Ilusi Negara IslamIndonesia, ditinjau dari sejarahnya memang sudah terbentuk dari berbagai ragam budaya, etnis, suku, ras, dan agama. Maka dari itu, konsep negara republik merupakan suatu manifestasi politik yang sangat tepat untuk Indonesia, baik untuk saat ini dan ke depannya masih menjadi republik.

Namun, belakangan ini ada sebuah gerakan yang kemudian mengatasnamakan Islam sebagai jargon politik untuk kepentingan kelompok tertentu. Kita tentu pernah mendengar gerakan Pan Arabisme, ataupun Kristenisasi yang berusaha mengubah atau bahkan memaksakan ssesuatu menjadi sama, entah itu agama, keyakinan ataupun norma-norma. Hal ini kemudian coba dibangkitkan lagi dengan gerakan radikal seperti Hizbut Tahrir, FPI, dan Organ sejenisnya yang dimana ujung-ujungnya kekuasaan dan menguasai.

Untuk lebih jelasnya mengenai alur-alur dari sistemika yang dijalankan ini, silahkan download buku ini di sini.

Download

Depag akan Mengkaji Pendidikan Pesantren

Hmi-saintek:Usulan Forum Komunikasi Pesantren Mu'adalah (FKPM) mengenai perlunya peraturan menteri (permen) untuk mengatur pondok pesantren mendapat tanggapan positif. Guna membahas pendidikan keagamaan termasuk pesantren, Departemen Agama akan duduk bersama dengan para rektor Universitas Islam Negeri (UIN) serta sejumlah pengurus pesantren.


''Depag akan menggelar diskusi yang akan dihadiri pejabat eselon I Depag, seperti kabalitbang, sekjen, dan irjen bersama beberapa rektor UIN serta pengasuh pesantren untuk membahas pendidikan keagamaan. Hasil diskusi itu akan dijadikan dasar untuk itu (permen),'' ungkap Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Departemen Agama, Prof Muhammad Ali kepada Republika , Selasa (21/4). Rencananya, pertemuan itu bakal digelar pada Jumat (24/4) pekan ini.

Sebelumnya, sejumlah pesantren besar berpengaruh di Indonesia meminta agar Menteri Agama mengeluarkan Peraturan Menteri Agama yang khusus mengatur pendidikan pesantren. Sehingga, pesantren dapat terpisah dari diniyah.

''Pendidikan pesantren tidak sama dengan pendidikan diniyah. Kami harap menteri agama segera mengeluarkan Permen tentang Pesantren Mu'adalah yang terpisah atau berbeda dengan Madrasah Diniyah,'' tutur KH Muhammad Idris Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ahad (19/4).

Kualitas madrasah
Dalam kesempatan yang sama, Prof Ali berharap kualitas madrasah di seluruh Tanah Air terus meningkat. Untuk itu, pihaknya berharap pada Ujian Nasional (UN) 2009, prestasi yang telah dicapai madrasah tidak menurun. ''Raihan prestasi murid, baik yang berasal dari madrasah swasta dan negeri, diharapkan tak mengalami degradasi,'' ujarnya menegaskan.

Pihaknya optimistis, kualitas dan prestasi para siswa madrasah pada UN tahun ini akan meningkat. Sebab, kata dia, para siswa madrasah telah mempersiapkan diri jauh sebelum ujian digelar. Pada tahun ajaran 2007/2008, tingkat kelulusan siswa madrasah ibtidaiyah (MI) mencapai 99,60 persen, madrasah tsanawiyah (MTs) sekitar 94,39 persen, dan madrasah aliyah 89,16 persen. Mata pelajaran yang diujikan meliputi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.

Pada tahun ajaran 2008/2009, jumlah siswa yang sedang dan akan mengikuti UN mencapai 1.599.670. Perinciannya, siswa MI mencapai 522.875 orang, tingkat MTs sekitar 776.434, dan MA 300.361 siswa. Menyinggung kemungkinan adanya kecurangan yang dilakukan para guru dalam pelaksanaan UN, Dirjen Pendidikan Islam, Muhammad Ali menegaskan, pihaknya akan menindak tegas terhadap siapa pun yang melanggar aturan.''Kami akan mengambil tindakan tegas, bila ada yang terbukti melakukan kecurangan, sanksinya bisa sampai pemecatan,'' kata Ali menegaskan.

sumber http://republika.co.id/berita/45605/Depag_akan_Kaji_Pendidikan_Pesantren

Analogi Ilmu dalam Pandangan

"Maa utitum mina al 'ilmi illa qolilan". Amalan ramadhan adalah belajar melalui kosmologi ilmu. Kenapa di bulan ramadhan umat muslim dianjurkan tadarus qur'an, dzikir, wirid dan sebagainya? Orang awam secara tradisional akan terilhami oleh banyaknya pahala yang dijanjikan Allah (berlipat ganda), dan ini boleh jadi benar adanya, karena itu semua hak prerogatif Allah. Tapi ada ruang lain yang bisa kita baca. Bulan ramadhan merupakan locus (kawah candradimuka) untuk mendapatkan kearifan, yang merupakan puncak tertinggi pencapaian ilmu dalam Islam. Kesemuanya itu melalui proses, emanasi (pancaran) dan illuminasi (pencerahan) yang berpijak dari Sang Theophanic (Allah) sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Mungkin terlalu platonik (atau bahkan neo platonik), tapi begitulah kenyataan. Ketika seorang Roddy Rocker (yang aristotalian) gagal membuat simulasi probabilitas matematis terhadap fenomena alam dan sosial, yang akhirnya sampai pada kesimpulan "undefinedly". Maka ada benarnya jika Ali Syari'ati, Hossen Nasr, ataupun Mehdi Hairi Yazdi menawarkan jalan alternatif terhadap metodis al hikmah al isyroqiyyah, juga ilmu hudluri, yang membentangkan metafisis sebagai wujud unitas ilmu dan kesadaran universalitas pengetahuan. Begitu pun juga dengan puasa di bulan ramadhan.(is)

Dimensi Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah niscaya adanya kenisbian (relatisvism) dan pengakuan wujud keabadian (parenialism). Momentum dari siklus puasa Ramdhan beranalogi dengan garis lurus ataupun lingkaran, bahkan apa saja grafis yang dibuat manusia , yang selalu akan terbatasi oleh ruang dan waktu. begitu juga historisitas kehidupan manusia, hanyalah sebuah kreasi konstruksi dari imajinasi, ide dan konsep. Tapi adakah yang mendorong wujud semua itu? Roger Garudy mengatakan adalah "promises", atau janji keabadian yang suci yang diharapkan mampu menjamin tata kehidupan manusia abadi kelak (akhirat). maka tidak salah kalau ada yang mengatakan seperti Peter L Berger, beliau mengatakan bahwa agama dengan segala unsurnya bagaikan "sacred canopy" terhadap realitas sosial sebagai wujud spirit dimensional. Mampukah kita mensinergikan esoterisme ramadhan ini dalam eksoteritas sosial dan individu kita? Sehingga berpadu antara relativitas dengan parenial sebagai kekuatan sejarah peradaban manusia. Kullu syaiin halikun illa wajhahu. Amin. Semoga.(is)

Esensi Ramadhan

Puasa merupakan simbol perlawanan. Penguatan esoteris menjadi wujud pembentukan individu yang paripurna, yang kemudian terakumulasi dalam sikap sosial. Pemaknaan akan rasa ketulusan (ikhlas), kejujuran (amanah) serta solidaritas sosial (at tadlomanu ijtima'i), adalah unitas organik peradaban (tamadun) dalam menciptakan cita-cita masyarakat madani yang egaliter, demokratis dan konstitusional. Mampukah puasa kita merajut pilar yang demikian itu? Atau hanya masih sebatas memenuhi tuntutan syar'i semata yang minimalis itu? Mari kita renungkan sendiri, dan bukan perenungan kolektif.(is)

Aktualisasi Esensi Filsafat Islam dalam Wacana Kontemporer

Pemateri : Kakanda Selamet Kastur
Dalam Diskusi Rutin Komisariat HMI SAINTEK UIN Malang

Filsafat secara umum tidak bisa hanya dipahami secara sederhana saja. Definisi tentang filsafat Islam-pun saling berbeda satu dengan yang lain. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang lahir atau berasal dari pemikiran orang-orang Islam. Kemudian muncullah pertanyaan, mengapa tidak dinamakan dengan filsafat muslim? Apa yang membedakannya dengan filsafat lainnya sehingga disebut dengan filsafat muslim?
Tujuan utama daripada filsafat Islam adalah memperoleh kearifan atau kebijaksanaan yang bermuara pada metafisika yang disebut juga dengan Ilahiat, yang mana tujuan tersebut tidaklah berbeda dengan tujuan filsafat bangsa Yunani. Hanya saja, filsafat Islam merupakan filsafat yang di dalamnya diberikan atau mengandung nuansa Islam. Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat Islam justru filsafat yang bersumber dari sumber dasar Islam : Al Qur an dan Hadits (The Quran and Hadith as source and inspiration of Islamic philosophy). Dalam prakteknya, filsafat Islam memunculkan dan menerangkan prinsip-prinsip serta menggali inspirasi dari Al Quran dan hadits, sehingga melahirkan corak filsafat yang secara prinsip berbeda dengan filsafat Yunani. Walaupun dalam tataran permukaan atau penampilan luarnya banyak persamaan dengan filsafat Yunani ataupun filsafat-filsafat lainnya. Dengan mencermati sedikit lebih mendalam uraian tersebut di atas, filsafat Islam tidak bisa disederhanakan hanya sebagai filsafat yang sekedar berasal dari pemikiran orang Islam dan dikelola dalam dunia Islam saja. Namun lebih dari itu, filsafat Islam juga merupakan pembacaan dan penafsiran dalam perspektif masing-masing para filosof daripada Al Quran dan hadits serta yang lainnya.
Dalam sejarah filsafat Yunani, tradisi filsafat dilakukan dengan metode yang semakin teratur sistematis serta berusaha melepaskan diri dari mitos dan lebih bertumpu pada usaha rasional atau lebih dikenal dengan logos. Tapi tidak dapat dikesampingkan, pengembaraan filosofis tidak bisa menganaktirikan metode intuisi karena menekankan pada usaha rasional dengan metode yang deduktif-analogis. Kemudian dalam perkembangan filsafat di tangan bangsa barat, filsafat dipersempit pada sekedar usaha rasional dan pendekatan intuitif diidentifikasikan serupa dengan mistik. Yang mana hal tersebut merupakan penyempitan makna filsafat dikarenakan positifisme sains atau reduksi pada logika dan linguistic. Pandangan bahwa filsafat adalah usaha rasional dengan metode deduktif-analogis menjadi paradigma yang digunakan untuk melihat filsafat Islam dan karena itulah filsafat Islam hanya dinisbatkan pada filosof-filosof muslim saja.
Dalam pandangan para filosof muslim, filsafat tetap pada makna dasarnya yaitu untuk memperoleh kearifan atau kebijaksanaan yang mana bertujuan mencari hakekat segala yang ada (wujud) tanpa harus membatasi pada usaha rasional, tapi lebih menekankan pada penggunaan segala sumber pengetahuan secara integrative mulai dari potensi rasional, intuisi dan wahyu. Dalam Islam, filsafat dengan berbagai aliran dan coraknya tetap dalam semangat makna aslinya sebagai cinta kearifan. Dalam Islam terdapat pula istilah hikmah yang diidentifikasi sebagai filsafat tersebut
Dalam perjalananya, filsafat Islam pernah dijadikan sebagai alasan atas kemunduran peradaban Islam akibat memudarnya pola berfikir terhadap sains. Filsafat Islam dianggap sebagai “kambing hitam” yang mengajak umat Islam untuk berjalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang. Hal tersebut kemudian memunculkan respon penolakan, khususnya dari kalangan filosof muslim sendiri. Memang sangat mungkin seseorang berfikir demikian, karena hal tersebut dapat muncul akibat meluasnya pandangan atau pola berfikir barat yang menjelma menjadi globalisasi yang tak dapat dielakkan dari kehidupan. Namun apabila dikembalikan pada esensi filsafat Islam, hal tersebut tidaklah benar. Karena filsafat Islam adalah juga didefinisikan sebagai akar daripada segala ilmu pengetahuan yang mana sains juga termasuk di dalamnya. Salah satu permasalahan yang sebenarnya adalah orang-orang Islam yang berfilsafat tidak banyak yang ahli dalam bidang sains, hanya beberapa saja seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain sebagainya. Sedangkan sains dijadikan sebagai tolok ukur atas peradaban yang mana hingga saat ini pula masih didominasi oleh kalangan barat. Lepas daripada itu semua, masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serta permasalahan-permasalahan dalam dunia filsafat, khususnya filsafat Islam
Masalah yang sering muncul dalam dunia filsafat Islam secara intern adalah, permasalahan perbedaan atau silang pendapat dan perbedaan perspektif dalam berfilsafat. Namun hal tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang sangat berharga. Bahkan hal tersebut memperlihatkan sisi menarik karena menunjukkan kreatifitas para filosof dalam menyelesaikan berbagai persoalan mendasar dalam Islam (Oliver Leaman and Sayyed Hossein Nasr), tapi tetap di bawah satu payung paradigma tauhid dengan sumber Al Quran dan hadits. Yang dibutuhkan saat ini adaalah pemahaman yang lebih luas tentang filsafat Islam dengan melihat dan mencermati lebih dalam dan tidak terjebak dalam perspektif barat.


Referensi : Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam
Seyyed Hossein Nasr, dll.
By : tIMbul Ht

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger