Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

CIVIL SOCIETY DALAM DUNIA KAMPUS



Oleh: Anwar Fauzi*- Istilah Civil society paa hakekatnya merupakan suatu istilah yang tidak begitu asing dalam benak pikiran kita. Kita sudah di perkenalkan dan diajarkan istilah Civil society sejak bangku SMP hingga bangku perkuliahan, yang termuat dalam mata kuliah Filsafat Pancasila atau Pendidikan Kewarga Negaraan. Akan tetapi tidak bayak dari kita yang memahami dan mengerti apa hakekatnya istilah Civil society ? dan untuk apa kita mempelajari civil society?
     Civil society atau yang bisanya kita kenal dengan istilah masyarakat madani pada hakekatnya merupakan reformasi total terhadap masyarakat yang tak kenal hukum (lawness) dan terdapat supremasi kekuasaan pribadi seorang penguasa seperti yang selama ini menjadi pengertian yang umum tentang Negara. Civil society atau masyarakat berperadaban adalah masyarakat yang mempunyai semangat ketuhanan, demokratis yang berdasarkan check and balance antara Negara dan masyarakat, berkeadilan, dan bersandar pada kepatuhan dan tunduk kepada hokum (law and order). Sebagaimana yang dikatakan oleh Guseppe Di Palma bahwa masyarakat madani merupakan bagian organik system demokrasi, yang menempatkan posisinya dalam bentuk oposisi terhadap rezim-rezim absolutis.
     Sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki peradaban yang berdasarkan komitmen bersama, demi cita-cita bangsa yang luhur dan mulia. Dimana dengan komitmen bersama, cita-cita yang kita idam-idamkan barangkali akan akan menjadi kenyataan. Karena kita mengingat bahwa Indonesia diciptakan oleh imajinasi intelektual yang tersusun secara sistematis, sehingga arah yang menjadi tujuannya tidak akan meleset dari perkiraan semula. Sehingga Cak Nur sapaan akrab Nurholis
    Madjid sangat otimistis bahwa Civil society merupakan lokomotif yang ideal untuk mewujudkan cita-cita bangsa demi kebaikan dan kemakmuran bersama.
Secara historis konsep civil society merupakan konsep yang bersal dari dunia barat, yaitu pada mulanya diperkenalkan oleh Cecero. Dan kemudian di bumingkan kembali oleh Fergusan pada abad ke-18, dalam rangka menanggalkan hegemoni pemerintah atau kerajaan yang otoriterian dan anti kritisizem. Dan sekarang ini, istilah Civil society telah mendunia dan konsepnya telah diterapkan diberbagai Negara yang salah satunya adalah Amerika Serikat. Dimana ide modern tentang civil society oleh John Locke digunakan dalam menyelesaikan problem social order yang muncul di akhir aba ke-17 M. Akan tetapi akar dasar dari pemikiran Civil Society itu sudah ada sejak abad ke-1 H yang di tandai dengan terbentukya kontitusi Madinah. Dima sosok figurnya disini adalah Rosulullah dia menciptakan negeri Madinah bagaikan surga dunia masyarakat. Dimana ia dapat membangun semangat demokratisasi masyarakat Madinah yang jauh dari peradaban. Dengan kehadiran Nabi di tengah-mereka keadilan, toleransi, dan kesejahteraan masyarakat Madinah dalam hubungan struktur masyarakatnya pada satu arah kemajuan yang menjanjikan. Sehingga John E. Esposito mengatakan bahwa Madinah yang dibawah bimbngan Muhammad semakin memperlihatkan kristalisasinya sebagai sebuah sitem sosio-politik.
     Sehingga pola terbentuknya Civil Society atau masyarakat madani dalam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting, yang sejatinya merupakan cita-cita bersama untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadaban dan berperadaban. Sehingga Cak Nur mengatakan bahwa Civil Society adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yakni mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang menjunjung nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan bersifat inklusif dalam kehidupan sosialnya.
Lalu bagaimana kontek Civil society dalam kehidupan dunia kampus? Pada hakekatnya Civil society adalah suatu bentuk penyadaran masyarakat terhadap nilai-nilai independensi yang berlandaskan idealisme kebaikan bagi umat. Sehingga dalam hal ini peran seorang mahasiswa sangat dibutukan dalam rangka membentuk suatu peradaban yang ideal bagi masyarakat. Sebagaimana yang dikatan oleh Ibnu Kholdun bahwa inti dari sebuah peradaban adalah menejemen organisasi yang beradab. Yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, inklusifisme, dandemokratis.
     Mahasiswa adalah masyarakat masyarakat terdidik, yang mempunyai keistimewaan pengetahuan secara formal di bandingkan dengan masyarakat biasa. Sehingga dalam perjalannya sejarah mahasiswa sangat berperan penting dalam membentuk peradaban dunia. Kita ketahui bahwa dalam perjalanan dinamika negeri Indonesia tidak lepas dari peranan mahasiswa. Mulai dari kemerdekaan, pembantaian anggota PKI, malaria, reformasi 1998. Sehingga peran mahasiswa sangat sentral dalam rangka pencerdasan masayarakat lainnya. Mahasiswa identik dengan agen perubahan dan agen social control, yang selalu menjadi gardan depan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Paradigm yang melekat inilah harus dapat menjadi cambuk ketika mahasiswa bersifat diabolisme kepada birokrasi kampus atau mahasiswa yang abai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan lalai dengan nilai-nilai naasionalisme yang diperjuangkan oleh pejuang kemerdekaan dahulu kala.
     Sehingga mahasiswa haruslah mampu membuat kampus sebagai media dalam rangka penerapan dan pembentukan peradaban yang bercorak Civil society. Dimana corak Civil society yang mampu mereformasi mahasiswa yang pola pikirnya yang jahiliyah menuju corak pemikiran yang modern, yang cerah bagaikan matahari yang menyinari kehidupan alam raya. Dunia kampus yang erat dengan nuwansa intelektualisme, bermoral, dan pusat peradapan ilmu pengetahuan
harus tetap dekembangkan. Dinamisasi pengetahuan dan jiwa-jiwa kritis harus tetap melekat dalm diri mahasiswa. Janganlah dunia kampus ini berubah menjadi dunia yang haidon, prakmatis, anmoral, dan memuja-muja nilai-nilai formalitas belaka tanpa melihat hasil yang diperoleh selama menjabat sebagai mahasiswa.
    Kampus harus bisa menanggalkan diabolis-diaboles intelektual yang cinta pada kekuasaan dan selalu menggandeng para birokrat yang serakah demi kepuasan kepintingan dirinya maupun kelompoknya. Kampus harus mempu mencentak kader-kader bangsa yang ideal yang bersifat independensi yang mampu membuka matanya dalam melihat realita social masyarakat. Yang mempunyai sifat reformis dan pantang mundur ketika melihat pendholiman yang terjadi di sekitarnya. Sehingga apa yang dicita-citakan oleh Prof. Dr. Imam Suprayoga yang menginginkan mahasiswanya menjadi singa-singa bangsa, yang tidak gentar menghadapi siapapun dan menjadi ispirator bagi lainnya, serta menjadi garden depan dalam mendobrak kedholiman.


Mahasiswa Prodi Al-Akhwal Al-Syakhsiyyah
Fakultas Syariah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
dan juga Kader HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang

PEREMPUAN DAN CITA-CITA LUHUR

‘Ini bukan masalah tentang gender kawan, tapi perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab sosial yang sama’
   Perempuan merupakan elemen masyarakat yang sering menjadi objek pembahasan tentang isu sentral dan diskursus yang secara intens oleh kalangan masyarakat, baik tentang hal kesenjangan dan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan, baik hak politik, maupun ekonomi. Masalah-masalah tersebut menjadikan banyak bermunculan gerakan perempuan yang muncul atas dorongan nurani, ketidakpuasan pribadi dan sebuah  kesadaran formal ini mengalami sebuah pergeseran menjadi kesadaran bersifat kolektif akan realitas yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Terbukti dengan banyaknya bermunculan pergerakan-pergerakan dan pembelaan atau aksi-aksi yang jelas dari para perempuan. Pada dasarnya perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam semua lapisan masyarakat. namun, pada akhir-akhir ini, pergerakan perempuan mengalami kelesuan, spirit yang dulu berkobar sedikit meredup. Menurut Soe Hok Gie “Perempuan akan dikalahkan laki-laki, jika yang diurusi hanya pakaian”. Sehingga Pemahaman tentang peran perempuan menjadi sebuah urgen untuk mewujudkan perubahan yang lebih progresif dengan diharapkan bermunculan gerakan-gerakan transformasi perempuan yang peka terhadap kondisi social masyarakat. 
   Metodologi gerakan perempuan di Indonesia memang masih belum terkonsepkan dengan matang. Banyak yang memperdebatkan bahwa gerakan perempuan di Indonesia merupakan gerakan yang berlandasan ideologi feminisme barat. Gerakan-gerakan kemasyarakat untuk memberdayakan perempuan sehingga seolah-olah feminisme barat menjadi kiblat pergerakan perempuan di Indonesia. Namun, sejatinya apapun istilah maupun teori yang digunakan Indonesia merupakan masyarakat yang memilki sosial kultur yang sangat berbeda dengan barat sehingga gerakan perempuan di Indonesia disetiap wilayah berbeda sesuai dengan kultur masing-masing, namun dengan platform yang sama yaitu memberdayakan perempuan serta memperoleh kesetaraan dan keadilan gender.




ETIKA INDEPENDENSI, Demokrasi Tuhan terhadap Hakekat Manusia


Oleh : Luluk (HMI Koms. Psikologi)

            Analogi sederhana, kalau kita ingin tahu tentang mobil, maka bertanyalah pada yang membuat mobil. Kita akan tahu, apa saja kerangka penyusunnya, dan apa tujuan pembuat mengadakan mobil tersebut. tapi secara subjektif, yang  kita lihat dari luar mobil itu  bangun yang bentuknya tergantung pada yang membuat. Dan setelah masuk, ada banyak ruang kosong yang tentunya mengikuti postur mobil.
            Metafora dari analogi di atas, adalah pada penciptaan manusia. untuk melepas unsur subjektivitas,berbicara tentang manusia ya dengan wawncara pada penciptanya.  Inilah, yang dilakukan malaikat ketika mendengar Tuhan akan menciptakan makhluk baru, pada waktu itu Tuhan sebut dengan kata “Kholifah” bukan dengan kata manusia. Bertanya malaikat pada Tuhan “ kenapa engkau akan ciptakan di bumi makhluk yang akan menyebabkan kerusakan dan  pertumpahan darah padahal, kami selalu bertasabih kepadaMu?” Jawaban yang cukup menggelitik dari Tuhan, “ Sesungguhnya aku tahu apa yang tidak engkau tahu.”
            Dari hasil dialog tersebut, saya menangkap karakter yang  ada pada manusia adalah manusia sebagai kholifah, sesuai dengan firman penciptanya, Inniy Jailun fil Ardhi Kholifah. Dan manusia sebagai perusak dan penumpah darah . Namun, penggalian esensi diri ini, secara pribadi saya tertantang dengan kata Inniy a’lamu ma la ta’lamun. Apa yang Tuhan sembunyikan dengan menggunakan kata Aku tahu? Adakah esensi lain, yang dimisterikan, selain yang diketahui malaikat, bahwa manusia sebagai perusak?
            Bukan bermaksud membaca pemikiran Tuhan.  Sebelum terciptanya bumi, Tuhan tentu sudah memiliki kehendak bahwa aka ada penghuni di dalamnya. Yang mewakili dzatNya untuk mengatur seluruh isi bumi. Sesuai dengan sifatNya  yang kekal, munculnya kehendak akan penciptaan kholifah, mustahil Tuhan memikirkan setelah bumi itu ada. Karena itu menunjukkan ketidak kekalan Tuhan itu sendiri. Dia telah memiliki perubahan dalam kehendakNya. Terlebih muncul karena mahluk yang ia ciptakan sendiri. Tuhan jauh dari hukum sebab akibat, maka kehendak penciptaan manusia sebagai pengatur bumi, entah dengan keterengan waktu bagaimana, jelasnya kehendak akan penciptaan bumi dan kehendak akan adanya kholifah di dalamnya, muncul secara bersama. Dengan bahasa lain, bukan disebabkan Tuhan melihat bumi kosong (Al-Ghazali:
            Berbeda dengan kepemimpinan dalam sistemik politik, yang mana pemimpin dipilih dengan melihat kemampuan, kholifah fil Ard adalah orang yang telah diberi kemampuan untuk memimpin. dan memiliki kewajiban menjalankan kepemimpinnya. Tuhan sangat demokratis dengan member bekal, member otonom bagaimana memfungsikan bekal, dan lebih demokratis lagi Tuhan yang member kepercayaan, maka Tuhan yang berhak menuntut terhadap Pertanggung jawabannya.
            Singkatnya manusia memiliki Independensi diri,dalam mengatur tanggung jawabnya. Jika kembali pada analogi mobil di atas, Tuhan tidak  memberi alat kendali pada manusia, seperti halnya sopir pada mobil. Karena masing-masing manusia telah diberi independensi, maka tidak ada manusia yang bertanggung jawab terhadap manusia yang lain. Manusia berdiri sendiri, tanggung jawabnya hanya pada Tuhan.
            Dari konsep independensi tersebut, maka substansi  mendasar yang dimiliki oleh manusia adalah Nurani, atau saya istilahakan dengan Etika Independensi. Etika yang menjadi bekal kepemimpinan. Etika yang bearasal dari konsep dirinya sendiri dalam memberi penilaian terhadap kehidupan. Jika selama hidupnya ada nilai lain yang menjadi paradigma dalam hidupnya, maka nilai tersebut hanya tekanan dari lingkungan yang berada di luar manusia. Maka ketika manusia mengikutinya, diakui atau tidak secara psikis akan muncul adanya penolakan dari nurani manusia. namun nilai-nilai sistemik tersebut, yang saya istilahkan dengan Etika kolektif telah memenjarakan etika independensi mereka, dengan ancaman konsekuensi berupa hukum masyarakat. Kalau manusia diciptakan sebagai pemimipin dan memiliki bekal nurani yang telah berisi nilai dari Tuhan, kenapa harus mengikti ide-ide sistemik yang bersasal dari luar dirinya. Kalau pada ahirnya, manusia yang bertanggung jawab atas semua tingkahnya, kenapa harus memilih pemimpin di luar dirinya, dan mengikuti ideologi yang diciptakan bersama, karena jika itu salah di mata Tuhan, meskipun hanya sebagai pengikut, hukuman Tuhan tetap berlaku. Jadi, berani saya katakana bahwa etika lingkungan harus dihindari jika manusia tetap ingin mempertahankan independensinya.
            Selama manusia belum mampu keluar dari etika sistemik, maka saat itu manusia tidak mampu untuk merdeka. Ia hanya menjadi boneka dari lingkungabutnnya.  Dan pencapaian kebutuhannya terhadap aktualisasi diri, sesungguhnya adlah semu. Dia bukan mengaktualisasikan diri, tapi dia hanya jadi cermin terhadap aktualisasi lingkungan yang menguasainya. Maka, ketika manusia ingin mengejar eksistensi, bukan dengan cara mengikutu gerak waktu yang sejatinya digerakkan oleh yang di luar dirinya, dan buka dengan menempati ruang yang kebanyakan di sana manusia memiliki peran tidak sesuai dengan pribadinya. Melainkan manusia harus mampu keluar dari pergerakan alur dan waktu tersebut, dengan mampu mengerakkan alur dan waktu seseuai dengan etika yang dimilikinya. Jadi, aktualisasi diri dinyatakan tercapai ketika manusia telah mampu mengeksistensikan substansinya.
            Untuk mampu keluar dari etika yang tekolektifkan, maka langkahnya adalah, manusia harus berhenti menjadi alat dari tujuan orang lain dan mengejar apa yang menjadi tujuan sendiri. Untuk itu, saya berani menolak, konsep manusia sebagai makhluk sosial. Karena konsep ini bukan membawa manusia untuk saling berkorban antara yang satu dengan yang lain, melainkan hanya jadi ajang manusia saling dikorbankan untuk kepentingan masing-masing. Kata “sosial”, telah memberi paradigma bahwa kebenaran adalah ketika mampu menghanguskan kepentingan sendiri demi kepentingan orang lain.
            Disebut sebagai makhluk sosial, akan menjadikan menjadikan manusia sebagai pengemis. Ia akan menjadi produk zaman, ia hanya diperbudak padahal ia diciptakan sebagai pemimpin, ia dibatasi kebebasan berfikirnya padahal Tuhan menciptakan ia sebagai makhluk yang berfikir, ia dipaksa untuk bertindak yang bertentangan dengan penilaian rasionalnya sendiri, padahal Tuhan telah memberi dia nurani ebagai tolak ukur akan nilai benar dan salah.
            Manusia sosial hanya menciptakan antara keputusan dan kebutuhan fitrah manusia. dan itu bukan kelompok sosial melainkan massa yang dipersatukan oleh kekuasaan geng terlembaga. Manusia sosial menghancurkan semua nilai kehidupan bersama manusia, tidak punya justifikasi dan menggambarkan, bukan sumber nilai manfaat, melainkan ancaman mematatikan bagi kelangsungan hidup manusia.
            Tuhan melarang manusia untuk bunuh diri. Tapi, manusia sosial menuntut mereka untuk mengorbankan diri. Pengorbanan adalah penyerahan suatu nilai yang lebih besar demi nilai yang lebih kecil, atau bahkan bisa disebut bukan nilai. Sebagai ilustrasi, manusia akan berkorban untuk kepentingan cintanya. Padahal itu bukanlah pengorbanan untuk orang yang ia cintai, melainkan ia hanya berkorban untuk kepentingan pribadinya karena belum siap untuk ditinggalkan. Inilah yang saya maksud, dia rela mengorbankan nilai harga dirinya, untuk hal yang berda di luar dirinya. Manusia punya potensi untuk hidup sendiri, buktinya mereka punya kemampuan untuk berkorban demi orang lain. Tetapi etika kolektif, menjadikan mereka hidup untuk orang lain.
            Kebajikan yang terlibat dalam membantu orang yang dicintai, bukanlah pengorbanan. Melainkan lebih tepatnya adalah integritas. Integritas adalah kesetiaan pada keyakinan dan nilai-nilai sendiri. Ia adalah kebijakan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai orang itu sendiri, kebijakan untuk mengekspresikan, mendukung dan menerjemahkan nilai-nilai itu kedalam realitas.
            Lalu bagaimana mengistilahkan pemberian kepada orang asing? Itulah yang disebut dengan rasa hormat dan kemauan baik atas nama nilai yang ada dalam dirinya sampai atau kecuali dia kehilangan niali itu. Muhamad diutus tidak untuk belajar akhlak pada lingkungannya, tetapi dia diutus dengan membawa bekal akhlak di dalam dirinya.
            Seorang manusia rasional tidak lupa bahwa kehidupan adalah sumber semua nilai dan karena itu ikatan umum antara sesame makhluk adalah dengan menganggap bahwa orang lain sevara potensial dapat mencapai kebajikan yang sama sebagaimana kebajikan dia sendiri dan dengan demikian sangat bernilai bagi dia.
            Ini berarti bahwa dia tidak berfikir kehidupan manusia bisa saling dipertukarkan dengan kehidupan dia sendiri. Dia mengakui fakta bahwa kehidupannya sendiri adalah sumber, bukan hanya bagi semua nilai-nilainya, tapi bagi kemampuannya untuk member penilaian. Karena itu, nilai yang ia berikan pada orang lain hanya merupakan suatu konsekuensi, suatu eksistensi, dan suatu proyeksi sekunder dari nilai primer yang tidak lain adalah diri dia sendiri.
            Dia sendiri, saya tegaskan bahwa untuk mencapai eksistensi, menjadi dia sendiri tidak dengan membawa ide kolektif. Mengikuti ide kolektif manusia hanya akan diakui oleh ranah yang semu, ranah yang sebenarnya adalah ketika manusia mamapu menyelami apa yang ada dalam palung dirinya. Sebuah sisi spiritual, yang saya lebih suka sebut sebagai nurani. Ranah semu dari ide kolektif memang menjadikan manusia diakau. Tapi itu adalah tempat yang sesat. Ranah yang bukan menjadikan manusia bereksistensi. Namun sebagai objek yang tubuhnya dipinjam untuk mengeksistensikan yang lain. Mereka bukan menjadi diri sendiri tapi terdoktrin untuk membentuk diri sesuai ide kolektif. Eksistensi adalah ketika tubuh dan jiwa menjadi satu. Bukan ketika tubuh melakukan afektif tertentu. Tapi nurani menolaknya.
Manusia tidak pernah memiliki ide bawaan, tapi ide kolektif telah menormakan mereka untuk mengenakannya. Ide bawaan atau rasisme yang mengaitkan signifikansi moral dengan garis keturunan genetis seseorang,gagasan bahwa cirri karakterologis dan intelektual seseorang dihasilkan dan diwriskan oleh kimia tubuh internalnya mengakibatkan sesorang dihakimi, bukan dengan karakter dan tindakannya sendiri, tapi dengan karakter dan tindakan kolektif nenek moyang ini sama saja ide bawaan, bukan hanya mewariskan ide tapi mewariskan dosa.
Rasisme mengklaim bahwa isi pikiran manusia adalahh diwariskan, bahwa keyakinan, nilai dan karakter seseorang ditentukan sebelum dia lahir, oleh factor-faktor fisik di luar kontrolnya. Inilah yang mematikan sifat-sifat spesifik yang membedakan manusia dari semua spesiesnya. Dengan cara mematikan rasionalanya Baik dan buruk manusia bukan dinilai dari dirinya saat itu tapi dilihat dari silsilah keluarganya. Inilah yang saya maksud bahwa dia tidak bereksistensi, dengan ide kolektif manusia hanya mengeksistensikan ide-ide kelompok dan ide nenek moyang, padahal Tuhan juga member dia nilai.

            Manusia terlahir secara Tabula Rasa, mereka adalah latar putih. Dalam penciptaannya Tuhan telah membekali dengan sisi spiritual. Tapi lingkungan ada yang baik dan yang buruk. Bukan karena Tuhan menciptkan mereka buruk. Tapi karena konsep nilai etika setiap manusia bukan untuk dikolektifkan, tapi untuk dijalankan secara independen dari yang ia pikirkan.
Ketika kamu mengikuti pemikiran orang lain, maka sejak saat itulah kamu menjauh dari dirimu sendiri. Tetapi sekalipun kamu sudah mengikuti apa yang menjadi jalan pikirmu. Kamu belumlah bisa disebut sebagai kamu. Itu masih proses menuju kamu. Dengan kata lain, itu hanya sekedar mengkamu..
Itulah spasi anata hakekat dan eksistensi manusia. eksistensi hanyalah jembatan, dan belum mencapai siapa sebenarnya manusia. karena di dalam eksistensi masih terdapat proses yang mana eksistensi sendiri bukanlah garis ahir. Ada waktu yang senantiasa bergerak, dan ruang yang senantiasa meluas.
            Aku adalah aku ketika aku keluar dari eksistensiku, yaitu di saat ruang dan waktu tidak lagi menjadi pengendali.
Diskusi Filsafat Manusia
Dibedah Dari Buku “Kebajikan sang Diri”

HMI: Lembaga Pencetak Peradaban


  • Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar : 18)
Himpunan mahasiswa Islam atau yang akrab dengan HMI. Organisasi yang dibangun di Yogyakarta oleh Lafran Pane dan rekannya telah ada sejak 65 tahun lalu (februari, 05-1947). HmI lahir dari rahim kemerdekaan, adik kandung bangsa Indonesia. Disini, di organisasi ini, Kita diajarkan tentang bagaimana berpikir rasional dan kritis. Kita mesti mempunyai landasan kerangka berpikir. Tidak serta-merta menerima mentah-mentah pemikiran atau konsepsi yang ada dan akan ada. Jika tidak, maka agama, pemikiran, konsepsi dan budaya hanya akan menjadi dogma. Persis, seperti yang dikatakan Karl Marx berabad silam. Dogma yang hanya menjadi pemaksaan, titipan dan warisan pemikiran dari neneka moyang belaka.
Anologi sebuah minuman, Kita tidak boleh menjustifikasi bahwa susu lebih nikmat ketimbang kopi, padahal Kita belum sama sekali mencicipi setetes saja kopi tersebut. Itu tidak berimbang, itu tidak adil. Kita tidak bisa menjustifikasi bahwa ajaran yang ini lebih benar ketimbang ajaran itu, tanpa mempelajari keduanya terlebih dahulu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Darinya itu, metode komparatif perlu Kita lakukan. Sebuah metode yang memperbandingkan dua atau lebih obyek perbandingan. Itulah gunanya belajar, inilah gunanya membaca. Apakah sejauh ini, perkataan saya tidak rasional ? Jika konyol, mohon tinggalkan !  Jika Anda sepakat, mari Kita lanjutkan :
Sejujurnya, saya amat berterima kasih  kepada HmI yang telah memperkenalkan saya lebih akrab dengan buku. Membaca menjadi begitu penting. Setidaknya, hal ini yang membedakan manusia dengan binatang. Wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah perintah membaca (QS. Al-alaq: 1). Di HmI, kami bersaing dengan diri sendiri untuk lebih cerdas lagi. Parameternya sederhana, siapa yang lebih banyak daftar pustakanya, maka Ia yang lebih tampan. Jadi, Kita dinilai dari ketebalan bahan bacaan. Kami selalu ngiler dan sakau bila melihat ada buku tak bertuan. Jika gadget atau dompet Anda tertinggal di sekertariat HmI, tenanglah itu tidak akan hilang. Tapi, jika buku Anda yang tertinggal. 1, 2, 3 detik pasti sudah raib disambar makhluk tak halus. Hingga-hingga muncullah sebuah pepatah baru : ” Sebodoh-bodohnya orang yang meminjamkan bukunya, lebih bodoh lagi peminjam yang mengembalikan buku pinjamannya “.

HMI adalah lembah pencetak peradaban. kita ditempa untuk menjadi kader yang cerdas dengan buku dan analisa. Yang lain bisa bermain domino, tapi kami merencanakan efek domino sebuah revolusi. Yang lain bisa galau di media sosial. Tapi kami galau jika melupakan realitas sosial. Kami percaya, islam bukanlah agama individualistis. Islam mengajarkan kepekaan sosial. Dibalik tanggung jawab pribadi, ada tanggung jawab sosial. Dibalik dosa pribadi, ada dosa sosial. Inilah alasan mengapa kami sering turun ke jalan. Atau paling tidak, melawan lewat kata.
Memang, tidak semua kader HMI adalah pahlawan-pahlawan bangsa. Ada juga yang ujung-ujungnya jadi koruptor. Tapi tidak sedikit kader HMI yang memberi andil untuk membangun peradaban, agama dan bangsa. Jusuf Kalla contohnya. Jangan karena segaris luka gores di kaki, kecantikan berubah menjadi keburukan. Hanya Tuhan yang Maha sempurna. Rasulullah SAW. bersabda : Islam itu tinggi, dan tiada yang dapat menandingi ketinggiannya (HR. Ad-daraquthni). Jadi, ajaran islam yang tinggi, bukan muslim (penganutnya). Lihatlah kemurnian dan kesempurnaan ajaran, bukan pada kader atau penganutnya. Adalah kesalahan berpikir, bila Kita berlaku over generalis. Islam dan HMI tidak akan rusak, seburuk apapun perilaku kader dan penganutnya. Intinya, pelajari ajarannya, bukan manusianya.
Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh kader HMI, termasuk penulis. Basis Kita hanya tertuju pada politic oriented. Klimaksnya adalah jabatan dan politik di pemerintahan atau organisasi. Kita seakan melupakan Need for Achievementdan Need for Affiliate. Kita terlalu ambisi terhadap Need for Power. Pemimpin itu karakter bukan jabatan. Karakter yang dibangun oleh pribadi yang tak pernah berhenti belajar. Pemimpin adalah konsekwensi, bukan orientasi. Konsekwensi bagi pribadi yang selalu tulus mengabdi dan melayani. Kita juga masih jumawa di bidang agama. Sementara mandul pada disiplin ilmu masing-masing. Jika Kita bisa lebih prestatif dan aplikatif terhadap ilmu, Kita telah memenuhi janji Insan Cita. Insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Itulah tujuan Kita.
Manusia yang berilmu ditinggikan derajatnya dua kali lipat. Namun, manusia berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, pertanggung jawabannya juga dua kali lipat. Khittah perjuangan HmI dapat disimpul dalam tiga kata saja : Beriman-Berilmu-Beramal. Bulan ini adalah bulan cinta, Kita harus merayakannya. Karena pada bulan ini, Nabi Muhammad SAW. yang penuh cinta dan kasih sayang, dilahirkan. Bulan ini adalah bulan perjuangan. Kita harus menyerukannya. Karena pada bulan ini, Organisasi HMI yang tak kenal lelah berjuang, didirikan. Yakin usaha sampai. Allahumma Shalli ‘Aala Muhammad, wa aali Muhammad !
  • Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum   mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. (Qs. Ar-Ra’d: 11).
Wallahu a’lam.

SBY-Boediono dan Program Kerja 100 Harinya

Refleksi 100 hari program kerja pasangan SBY-Boediono, tanggal 20 Oktober 2009 - 28 Januari 2010.

Kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia tentu ingat dan hafal betul dengan tradisi janji-janji politik yang kemudian menjadi penarik massa untuk menjadikan calon sebagai pemimpin. Ada sebagian yang menaruh harapan besar terhadap janji tersebut, bahkan ada juga yang apriori dan cenderung acuh tak acuh. Namun, sebagai masyarakat yang telah lama menantikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, adil dan makmur tentu menginginkan janji politik tersebut bukan hanya sebagai argumentasi politik saja, melainkan lebih ke wilayah praktek lapangan dan kebijakan yang mampu mewujudkan harapan masyarakat bangsa Indonesia.

Hal ini sama dengan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009, dimana tampil sebagai pemenang adalah duet pasangan SBY-Boediono, menyingkirkan lawan-lawannya yaitu JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Dalam Pilpres, sebagai calon pemimpin bangsa ini harus mempunyai visi dan misi yang jelas terhadap pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Visi dan misi tersebut kemudian dijadikan landasan program kerja pemerintahan selama kurun waktu kepemimpinan.

SBy-Boediono dalam janji politiknya, menyebutkan 5 pondasi kebijakan sebagai desain pemerintahan 5 tahun mendatang. Dari 5 pondasi tersebut, dalam dokumen visi dan misi pasangan SBY-Boediono kemudian dikembangkan menjadi 13 program kerja pemerintahan. Program kerja tersebut antara lain:
  1. Melanjutkan program pendidikan nasional,
  2. kesehatan masyarakat,
  3. program penuntasan kemiskinan,
  4. menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja bagi Rakyat Indonesia,
  5. melanjutkan program pembangunan infrastruktur perekonomian Indonesia,
  6. meningkatkan ketahanan pangan dan swasembada beras, gula, jagung, dsb;
  7. menciptakan ketahanan energi dalam menghadapi krisis energi dunia,
  8. menciptakan good governmentdan good corporate governance,
  9. melanjutkan proses demokratisasi,
  10. melanjutkan pelaksanaan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,
  11. pengembangan teknologi,
  12. perbaikan lingkungan hidup,
  13. dan pengembangan budaya bangsa.

Berkaitan dengan program kerja di atas, terjadi perdebatan yang sangat mencolok antara konsep ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neoliberal, dimana kemudian pasangan SBY-Boediono memakai konsep "Jalan tengah" sehingga visi misi yang dilontarkan menjadi abstrak. Kenapa demikian? Dalam melaksanakan program, seorang pemimpin harus memiliki prioritas, karena dengan mengambil konsep "jalan tengah" seolah-olah ingin melepaskan diri perdebatan yang muncul. Secara paradigma memang ini berpengaruh terhadap pembangunan bangsa, namun yang menjadi permasalah di sini adalah pembangunan menjadi tidak populis dan cenderung memunculkan elitis-elitis baru.

Kemudian, dalam pidato pengukuhan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober 2009, pasangan ini juga memunculkan tradisi yang sebelumnya juga pernah dilakukan dengan duet berbeda, yaitu program kerja 100 hari. Di antara program kerja 100 presiden tersebut adalah:
  1. Pemberantasan mafia hukum,
  2. revitalisasi industri pertahanan,
  3. penanggulangan terorisme,
  4. kesediaan listrik,
  5. peningkatan produksi dan ketahanan pangan,
  6. revitalisasi pabrik pupuk dan gula,
  7. penataan tanah dan ruang,
  8. peningkatan infrastruktur,
  9. peningkatan pinjaman Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah,
  10. pendanaan,
  11. penanggulangan perubahan iklim dan lingkungan,
  12. reformasi kesehatan dengan mengubah paradigma masyarakat,
  13. reformasi pendidikan,
  14. kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana alam, dan
  15. koordinasi erat pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan di segala bidang.

Dalam pidato tersebut juga disebutkan bahwa, program kerja 100 hari adalah sebagai batu pijakan dalam pembangunan 5 tahun mendatang. Sepeti dilansir dari pidato tersebut, orientasi kebijakan pembangunan kabinet adalah pembangunan untuk semua dan bukan untuk kelompok serta golongan. Berkaitan dengan itu, SBY juga menyinggung upaya mencapai pembangunan untuk semua itu haruslah didukung oleh kerja kabinet yang profesional. Sementara, fakta menunjukkan berbeda. Adanya akomodasi jatah kabinet dari pihak lawan tentu mengisyaratkan aroma kompromi politik agar pemerintahan tidak diganggu di tengah jalan.

Meskipun ada banyak permasalahan lain, seperti sikap tempramental koruptif masih meraja lela, ganti pejabat ganti mobil dinas, mafia hukkum masih berkeliaran, proyek pembangunan ala kadarnya, dan sebagainya, tidak lantas menghilangkan makna dari program kerja 100 Presiden. Harapannya 100 hari tidak hanya menjadi angin lalu dan angin surga yang meninabobokan kita, masyarakat bangsa Indonesia.(*)


Abdul Muis

(Sekum HMI Korkom UIN Malang, Periode 2007-2008)

Sistem Ekonomi Bung Hatta Cocok dengan Kondisi Saat Ini

Ekonomi yang diusung oleh proklamator Indonesia Muhammad Hatta masih cocok dengan kondisi saat ini bahkan bisa menjawab kesejahteraan bagi rakyat kecil.

Hal tersebut diungkapkan oleh Anwar Abbas, pengarang buku "Bung Hatta dan Ekonomi Islam, Pergulatan Menangkap Makna Keadilan dan Kesejahteraan" dalam peluncuran buku tersebut di Jakarta, Selasa.

Anwar melihat sistem perekonomian global dan Indonesia belum dan semakin tidak berpihak kepada rakyat miskin

. "Stiglitz (pemenang nobel Joseph E Stiglitz) mengatakan sistem ekonomi hari ini kurang berpihak kepada rakyat miskin karena itu perlu sistem ekonomi alternatif," kata Dosen Ekonomi Islam Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah Jakarta itu.

Anwar mengatakan sistem ekonomi yang diusung Bung Hatta bisa menjawab hal itu. "Bagaimana pemerintah mempunyai komitmen menyelenggarakan ekonomi berkeadilan dan bisa menyejahterakan rakyat. Saya lihat pemerintah udah berusaha tapi tidakmaksimal," katanya.

Anwar melihat apabila pemerintah benar-benar menerapkan sistem perekonomian seperti pada Pasal 27, Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 maka kesejahteraan rakyat bisa tercapai.

"Fenomena perekonomian saat ini egoistik dan individualistik sehingga keragaman, kebersamaan dan persatuan tidak tercapai," kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Pemikiran ekonomi Hatta secara substansial dapat dinilai sejalan atau paralel dengan konsep Islam terutama dilihat dari sisi falsafah, tujuan nilai-nilai dasar dan nilai instrumentalnya.

Oleh karena itu pemikiran ekonomi Hatta bisa dilihat sebagai salah satu bagian dalam pemikiran ekonomi Islam.

Anwar mengatakan disertasinya tersebut memperkuat kesimpulan dari Nurcholish Majid dan Sri Edi Swasono yang melihat sosok Bung Hatta sebagai sosok yang religius.

"Sehingga kedua tokoh ini mempertanyakan kesimpula yang menyatakan bahwa Hatta adalah seorang nasionalisme atau muslim sekuler seperti dikemukakan TH Sumartana dan Ricklets dan Endang Saifuddin," kata Anwar.

Anwar mengatakan bahwa Sri Edi Swasono mengungkapkan pemikiran ekonomi yang dikembangkan Hatta terkait pada tauhid keislaman yang berdasar hakekat kehidupan bangsa ataupun manusia.

"Hatta melihat bahwa alam semesta termasuk harta kekayaan milik Allah oleh karena itu ekonomi harus menjunjung nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dengan mengaplikasikan

sumbeer http://www.mui.or.id/mui_in/news.php?id=374

Pesan dari AAB: Mewujudkan HMI Sebagai Organisasi Perjuangan Menegakkan Islam

Mewujudkan HMI Sebagai Organisasi Perjuangan Menegakkan Islam
Oleh: Abu Bakar baasyir

Itulah judul tulisan pesan dari beliau untuk HMI yang kami kutip dari Website http://ABBcenter.org Lebih lanjut berikut kutipannya :

"Pemahaman tentang Islam ini yang harus dibenahi oleh HMI kedepan. Kaderisasi HMI harus lebih difokuskan pada pemahaman Islam yang benar. Di akhir zaman ini umat Islam banyak menghadapi tantang dan fitnah, terutama fitnah kebodohan yang menimpa kaum muslimin. Jangan sampai HMI tergerus arus dan hanyut dalam kebodohan itu.”
Himpunan Mahasiswa Islam atau yang dikenal dengan HMI merupakan organisasi mahasiswa yang mempunyai sejarah cukup panjang. Ia lahir dari sebuah keprihatinan atas kondisi bangsa dan umat Islam yang saat itu sangat terpuruk dan terbelakang dalam segala aspek, baik moral, mental, kemandirian dan intelektualitas.

Oleh karena itu, tujuan didirikannya HMI itu pun tidak lepas dari semangat itu, yakni untuk melakukan syiar Islam dan memajukan bangsa Indonesia. Maka pada 5 Februari 1947 bertepat di Sekolah Tinggi Islam (kini Universitas Islam Indonesia/UII) Yogyakarta, Lafran Pane dan kawan-kawan membentuk organisasi kemahasiswaan yang diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

HMI yang kini telah berusia lebih dari 61 tahun (5 Februari 2008) dan hampir mempunyai kader di seluruh perguruan tinggi di Indonesia dan kader-kadernya tersebar di seluruh nusantara tidak besar dan eksis seperti saat ini. Awal berdirinya HMI penuh dengan dinamika dan tantangan yang cukup hebat. Terutama masa-masa awal kemerdekaan, di mana HMI vis a vis langsung dengan kaum penjajah.

Pada fase berikutnya HMI juga mengahadapi tantangan dari dalam, yakni pada masa pemerintah Orde Lama. Sebagaimana kita ketahui bahwa saat itu pemerintahan Soekarno begitu kuat dan didukung penuh oleh kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sehingga PKI pada saat itu dengan berbagai cara berupaya untuk membubarkan HMI. Tetapi alhamdulillah Allah melindungi sehingga Orde Lama Soekarno berpihak kepada HMI dan HMI tidak jadi dibubarkan.

Di masa Orde Baru, gerakan-gerakan yang mengarah pada pengkerdilan eksistensi dan perjuangan HMI juga sering terjadi, baik yang direncanakan maupun yang tidak. Gerakan yang dampaknya paling terasa hingga kini adalah ketika pemerintah Orde Baru Soeharto memberlakukan asas tunggal Pancasila bagi seluruh organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan (kemahasiswaan).

Tak pelak kebijakan tersebut membuat HMI berada di persimpangan jalan antara kelompok yang ingin terus mempertahankan asas Islam dengan kelompok yang ingin menggunakan asas Pancasila. Maka pada Kongres di Padang tahun 1986 HMI pecah menjadi dua kubu: HMI Dipo dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Konflik itu sampai kini masih belum terselesaikan dengan tuntas.

Realitas di atas menunjukkan bahwa HMI sesungguhnya organisasi yang sangat teruji. Ia memiliki manajemen yang bagus (rapi), mempunyai sistem pengkaderan yang sistematis dan berkelanjutan, piawai dalam memanajemen konflik. Selain itu, kekuatan lain dari HMI adalah ia memiliki kader-kader yang berkualitas dengan tingkat profesionalitas di bidangnya masing-masing.

Dari segi intelektualitas HMI luar biasa, ada yang jadi menteri, gubernur/wakil gubernur, walikota/wakil walikota, bupati/wakil bupati, wakil presiden, ada yang menjadi cendikiawan dan seterusnya. Kalau dilihat dari sisi ini boleh dikatakan bahwa sistem pengkaderan di HMI terbilang sukses dan berhasil.

Hanya saja yang perlu saya kritisi HMI kurang memahami tentang Islam yang benar. Pada umumnya kader-kader HMI tidak memahami Islam yang sesungguhnya. Bahkan banyak alumni HMI atau tokoh-tokoh HMI yang terpengaruh dengan pikiran-pikiran sekuler antara lain dari gagasan dan pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL).

Pemahaman tentang Islam ini yang harus dibenahi oleh HMI kedepan. Kaderisasi HMI harus lebih difokuskan pada pemahaman Islam yang benar. Di akhir zaman ini umat Islam banyak menghadapi tantang dan fitnah, terutama fitnah kebodohan yang menimpa kaum muslimi. Jangan sampai HMI tergerus arus dan hanyut dalam kebodohan itu.
Perjuangan HMI paling berat adalah memperjuangkan tegaknya Islam itu sebagaimana yang dicita-citakan saat berdirinya HMI tahun 1947. Kalau itu belum terwujud maka tugas kita sebagai kader HMI adalah meninjau kembali sistem pengkaderan untuk lebih memfokuskan pada pemahaman Islam yang sebenarnya.

Jangan sampai kader-kader HMI mengikuti pola-pola rasionalisasi atau pola-pola liberalisasi, sebab pola-pola seperti itu menyesatkan dan merusak iman. HMI harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai pegangan dalam kehidupan di dunia dan dalam perjuangannya. Jadi titik tekan dari perkaderan HMI adalah memahami Islam dan pokok-pokok ajarannya dengan benar, sehingga sistem perjuangannya terpimpin oleh Al Qur’an dan Sunnah.

Kita bangga melihat kader-kader HMI punya intelektualitas tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan sebagainya, namun apa gunanya itu semua kalau kader HMI tidak memahami Islam yang sebenarnya. Dalam Al-Qur’an ukuran orang bodoh atau pintar itu bukan diukur dari kehebatan dalam memahami ilmu pengetahuan, tetapi diukur dari pemahaman terhadap dinul Islam.

Seseornag dikatakan pandai ketika dia bisa membedakan antara yang hak dan yang batil. Namun, jika seseorang tersebut tidak memahami Islam meskipun dalam bidang ilmu pengetahuan mendapat gelar doktor dan prefesor itu masuk katagori bodoh karena tidak memahami antara yang hak dan yang batil.


HMI jangan berbangga diri ketika ada kader HMI manjadi gubernur, menteri dan atau presiden. Yang harus kita banggakan ketika ada kader HMI yang tingkat pemahaman Islamnya benar. Kalau kader-kader HMI tidak ada yang memahami islam secara benar dan mendalam syukur-syukur kalau ada yang menjadi ulama, itu bisa dikatakan kemunduran bagi HMI. Nikmat Allah yang paling besar dalam kehidupan di dunia ini adalah Islam, maka Kader-kader HMI wajib memahami dan mengamalkan islam seutuhnya.

Saat ini Islam sedang mengalami tantangan yang cukup berat yang justru datang dari umat Islam itu sendiri, karena kebodohan mereka tentang islam. Islam diobok-obok, dirusak dan diperangi bukan melalui senjata, tetapi diperangi dari dalam. Contoh paling nyata adalah gerakan Ahmadiyah dan JIL {Jaringan Islam Liberal} sehingga banyak umat islam yang tertipu dan sesat pahamnya.

Kasus Ahmadiyah dan JIL ini adalah merupakan ujian, tantangan yang merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai kader HMI untuk membela Islam. Untuk menghadapi hal itu, HMI harus benar-benar memahami Islam, kemudian menyampaikannya kepada masyarakat luas. Kalau kita sudah memahami Islam maka semua kebusukan dan penyelewengan Ahmadiyah dan JIL akan terungkap dengan jelas. Kebusukan dan penyelewengan itu harus dihadapi dengan argumen-argumen syari’at Islam.

Islam yang benar yang saya maksudkan di sini adalah Islam yang sesuai dengan keterangan Al-Qur’an dan Sunnah. Yang perlu kita pahami juga bahwa selain menurunkan Al-Qur’an dan Sunnah, Allah SWT juga menurunkan sistem mengamalkan Islam, sistem memperjuangkan Islam dan cara berorganisasi menurut islam. HMI sebagai organisasi kader yang berbasiskan Islam harus memahami itu semua.

Rasulullah SAW bersaba, "وأما أمر دينكم فإلي وأنتم أعلم بأمور دنياكم,” {artinya: ‘adapun urusan Dien-mu/ Islam, harus kembali kepadaku, dan kamu lebih tahu urusan duniamu’} maksudnya yaitu kalau kamu mau paham din (Islam) dan cara mengamalkannya harus kembali kepadaku, harus bertanya dan mengikuti Nabi SAW, menafsirkan menurut penafsiran Nabi SAW, adapun kamu lebih tahu duniamu—dunia yang dimaksud dunia di sini adalah teknologi, bisa belajar sama orang kafir, tapi kalau urusan Islam harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Kalau terkait dengan pemahaman Islam harus kembali kepada konsep Al-Qur’an dan Sunnah tidak bisa diubah-ubah. Kita tidak bisa seenaknya meliberalkan itu semua seperti yang ditafsirkan oleh pengikut Jaringan Islam Liberal (JIL). Misalnya ilmu kedokteran, tidak bisa diliberalkan, harus mengikuti kaidah-kaidah yang ada dalam Islam. Ada dasar-dasar atau pokok-pokok yang bisa dijadikan landasan untuk memahami hal itu.

Saya belum pernah melihat HMI dari dulu sampai sekarang bersungguh-sungguh untuk memahami Islam. Islam yang dipahami HMI adalah Islam sekuler yang dikembangkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan hal ini perlu dikoreksi. Perlu dibuat patokan-patokan atau konsep tentang tauhid yang benar, bagaimana syariat yang benar dan sebagainya.

Dalam konteks perjuangan sesungguhnya HMI sudah cukup semangat, namun yang menjadi persoalan besar adalah tingkat pemahaman terhadap Islam yang bergitu rendah. Padahal, kalau kita memahami Islam dengan benar maka secara tidak langsung itu akan meningkatkan semangat perjuangan yang menjadi cita-cita atau mission HMI.
Allah SWT menurunkan konsep hidup berupa Islam itu adalah ideologi yang nilainya paling benar, paling modern dan paling ilmiah. Suatu aturan dikatakan ilmiah dan modern bila tidak bertentangan dengan syariat Islam sedangkan yang bertentangan dengan peraturan Islam adalah aturan jahiliah. Ini prinsip mendasar yang harus dipahami oleh kader-kader HMI.

Setelah memahami nilai dari dinul Islam, Kader HMI harus memahami pula bagaimana cara mengamalkan Islam. Allah menurunkan Islam bukan untuk diamalkan seenaknya, sesuka hatinya, tetapi ada perangakat sistem yang mengaturnya. Ibarat obat juga diturunkan resep dan cara pemakaiannya.

Sistem mengamalkan Islam harus dengan kekuasaan tidak bisa diamalkan dengan membagi-bagi kekuasaan dengan ideologi lain atau di bawah kekuasaan Ideologi lain. Seperti yang dialami umat islam saat ini. Dinul Islam berlapang dada terhadap kenyataan prulalitas, sebab itu sunnatullah tidak bisa dihilangkan, ideologi lain juga boleh berkembang, tetapi harus di bawah Islam dan harus diberlakukan baik dan adil. Bukan Islam di bawah kekuasaan lain, kalau Islam di bawah mereka (ideologi atau kekuasaan selain Islam) pasti tidak akan ada keadilan, pasti islam tidak akan diperbolehkan mengamalkan ajarannya secara kaffah {Sempurna}.

Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini yang paling didholimi adalah umat Islam, karena mereka tidak dapat menjalankan syari’at islam secara sempurna yang boleh diamalkan hanya Ritual Nikah, Talak, Ruju’, sedang yang lainnya seperti Hukum Qishos dan Hudud tidak boleh dilaksanakan. Sedang agama lain seperti Kristen dan Budha boleh mengamalkan syari’atnya secara sempurna. Inilah bukti ketidakadilan kalau islam di bawah kekuasaan lain.

Allah juga menurunkan cara memperjuangkan Islam. Konsep atau cara memperjuangkan Islam ini sering tidak dipahami. Konsep memperjuangkan Islam dalam Al-Qur’an itu hanya ada dua, dakwah dan jihad. Islam tidak bisa diperjuangkan dengan demokrasi, demokrasi itu sistem dari luar tidak bisa untuk memperjuangkan Islam.
Antara Islam dan demokrasi ada perbedaan mendasar dan tidak bisa disamakan. Dalam syariat Islam, perintah Allah, harus diamalkan tanpa minta persetujuan manusia, sedangkan demokrasi mengatur setiap peraturan harus meminta persetujuan manusia meskipun untuk menjalankan perintah Allah. Kalau setuju diamalkan kalau tidak boleh diamalkan.

Terkait dengan Ajaran Jihad, sesungguhnya sangat sederhana, yakni Jihad untuk membela diri/ Islam. Sebagaiman diketahui bahwa setiap dakwah yang kita sampaikan pasti akan mendapat tantangan. Kalau tantangan itu dengan kekuatan argumentasi harus dilawan dengan argumentasi pula, dan kalau dengan fisik harus dihadapi dengan fisik. Dalam Al-Qur’an kita disuruh berdiskusi dengan mereka, namun kalau dihadapi dengan fisik kita lawan dengan fisik pula, itu namanya jihad.

Menurut hukum Islam orang kafir boleh hidup mengamalkan keyakinannya tetapi harus tunduk di bawah kekuasaan Islam. Mas’alah inilah yang tidak dipahami oleh kebanyakan umat islam termasuk Kader HMI, sehingga memunculkan seteriotip bahwa Islam itu ambigu, Islam identik dengan kekerasan, Islam tidak adil, dan sebagainya. Padahal, yang namanya adil dalam Islam itu yang menggunakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Islam.

Alangkah baiknya kalau HMI mampu memahami ini sehinga perjuangan HMI menjadi benar. Mendakwahkan Islam yang benar artinya menerangkan kebaikan Islam dan mengkritik semua sistem di luar Islam. Selama Dakwah islam hanya menerangkan Islam, tetapi sistem di luar islam {termasuk dalam system yang dipakai di Indonesia} yang tidak benar itu tidak pernah pernak dikritik, maka dakwah tidak mencapai sasaran.

Maka jika ingin keadilan ditegakkan di Indonesia, Negara harus berdasar Islam dan memakai hukum Islam secara kaffah, tidak ada pilihan lain. Kesalahan pemimpin kita dan para kader-kader HMI yang sudah-sudah nampaknya karena tidak memahami hal ini. Mereka sudah terkotori oleh pikiran-pikiran sekuler, dan tidak Islami. Kalau keteguhan kita memegang prinsip Islam yang benar dapat menimbulkan tudingan negatif seperti “Islam fundamentalis”, “Islam garis keras” dan sebagainya itu sudah sewajarnya karena para Nabi pun dituduh tukang sahir yang gila. Oleh karenanya harus dihadapi dengan sabar dan teguh pendirian.

Musuh Islam paling berbahaya adalah lahirnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam tetapi ajarannya menyesatkan. Ini lebih berbahaya daripada serangan melalui senjata. Kalau HMI tidak paham Islam kita mudah ditipu orang atau kelompok tertentu, hal-hal yang berbahaya dianggap bermanfaat karena memang tidak paham pokok-pokok Islam.

Karena mereka tidak paham Islam maka gerakan Islam menjadi amburadul dan selalu gagal dalam memperjuangkan Islam. Kita ambil contoh Partai-Partai Islam dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berhasil, selalu dipermainkan dan dibohongi. Piagam Jakarta misalnya, gagal karena tidak ada semangat memperjuangkan Islam dengan dakwah dan jihad tetapi sayangnya dengan sistem demokrasi.

Mereka yang tidak setuju dengan Piagam Jakarta karena mereka kurang memahami Islam dan tidak paham persoalan yang sesungguhnya. Mereka mengaku Islam tetapi pahamnya sekuler. Islam itu tidak bisa dipisahkan dari negara karena Islam adalah negara. Karena itu, dalam UUD seharusnya syariat Islam yang menjadi sandaran bukan paham lainnya.

Rusaknya paham Islam saat ini karena mereka (umat Islam) tidak paham tentang Islam yang benar. Dalam urusan syariat, Islam itu cukup tegas tidak ada kompromi dengan ideologi lain, oleh karena itu di dalam islam tidak dibenarkan kerukunan agama, yang dibenarkan kerukunan umat beragama dalam kerja sama urusan dunia. Sedangkan urusan syariat, berlaku kaidah lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Hal ini yang perlu dipahami oleh HMI sebagai organisasi perjuangan islam.

Dalam konteks ilmu pengetahuan HMI memang mempunyai pedoman dasar pengkaderan yang cukup bagus, ada nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) yang menjadi pedoman, namun HMI terbelakang tentang paham keislaman. Pemahaman tentang Islam masih kabur dan perlu segera dikembalikan kepada pemahaman yang benar.

Islam tidak bisa dicampur dengan paham sekuler dan nasionalis. Keduanya mempunyai ranah masing-masing. Islam mempunyai ranah sendiri, sedangkan nasionalis dan sekuler juga punya ranah sendiri. Kalau ada ajaran sosialis yang mau diambil harus disesuaikan dengan Islam, yang cocok dengan Islam diambil dan yang tidak harus dibuang.

Rasulullah SAW memprediksi bahwa dunia kelak akan dikuasi sekali lagi oleh Islam, yakni tegaknya Khilafah Islamiyyah dan tanda-tandanya sudah kian kelihatan, misalnya adanya jihad di Irak dan Afganistan. Jihad yang dilakukan oleh mereka itu telah membangkitkan jihad di mana-mana. Mereka memprediksi bahwa pada tahun 2020 Israel dapat dihancurkan sehingga memungkinkan tegaknya kekuasaan Islam/ Khilafah Islamiyyah.

Di HMI, saya aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI). Lembaga ini saya rasa perlu diberi tugas untuk mengadakan riset menggali tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah Islam yang benar. Dulu saat saya aktif di LDMI HMI Cabang Solo pernah mengadakan gerakan memahami Al-Qur’an, tetapi hasilnya belum maksimal.

Saatnya LDMI diberi kepercayaan melakukan studi Islam yang sebenarnya untuk selanjutnya dijadikan pedoman di dalam training. Saya berpendapat HMI di samping harus selalu mempelajari Islam dan mengamalkannya juga harus memahami dasar-dasar bahasa Arab karena bahasa Arab itu adalah bahasa yang dipilih oleh Allah untuk menghantarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Di samping itu boleh juga mempelajari bahasa-bahasa asing lainnya untuk kepentingan Dakwah dan pengetahuan.

Sangat disayangkan penguasaan terhadap bahasa Inggris begitu lancar, namun sama sekali tidak menguasai bahasa Arab. Ini sesungguhnya suatu kekalahan. Imam Syafii mengatakan belajar bahasa Arab adalah fardhu ain. Kalau orang Islam tidak bisa bahasa Arab berarti dia tidak mengerti Al-Qur’an.

Oleh karena itu, HMI perlu mengadakan pembinaan Islam dan bahasa Arab sehingga kader HMI bisa memahami pokok-pokok bahasa Arab dan Islam. Dalam Al-Qur’an surat 49 ayat 15 disebutkan, karakter orang mukmin itu ada dua. Dua hal itu harus juga menjadi karakter kader-kader HMI.

Pertama, percayanya keimanan kepada kebenaran syariat harus mantap tidak boleh ragu sedikitpun. Karena kebenaran syariat sifatnya mutlak. Oleh karenanya tidak boleh ragu-ragu dalam mengimaninya terlepas apakah akal kita bisa memahami maslahatnya atau belum. Kalau akal kita belum memahaminya maka akal harus tunduk, bukan syari’at yang disesuaikan kemauan akal. Orang kadang-kadang mendewakan akal, kalau syari’at kemaslahatannya belum dipahami akal dan logika maka syari’at itu ditolak atau dirubah-rubah agar sesuai dengan kemauan akalnya.

Dalam konteks syariat, akal harus tunduk pada kebenaran tersebut. Sebab tidak semua persoalan di dunia ini bisa dirasionalkan atau dibenarkan dengan logika-logika akal, kunciya ada pada kepercayaan. Misalnya, orang berobat, bukan menggunakan akal dan logika, tetapi didasari oleh rasa percaya dan keyakinan. Umpamanya saat kita mendapat resep dari dokter tentu saja akal kita tidak mengerti, namun meskipun demikian obat itu tetap kita beli dan kita makan menurut aturan resep itu, dasarnya adalah kepercayaan terhadap resep dokter itu, padahal resep dokter masih mungkin salah itu saja harus kita percayai, sedangkan syariat Allah tidak mungkin salah lebih berhak harus kita percayai secara mutlak.

Kemudian karakter yang kedua adalah berjuang di jalan Allah yakni berjuang menegakkan Islam. Kalau Islam sudah tegak maka semua akan baik, bangsa baik, negara baik. Jika Islam tidak tegak maka omong kosong bangsa dan negara akan baik. Dengan menegakkan Islam itu berarti menegakkan keadilan dan kebenaran.

Jika Islam sudah tegak maka semua makhluk akan merasakan keadilan dan kesejahteraan. Baik orang kafir dan mahluk-mahluk lainnya akan merasakan yang namanya rahmatam lil alamin. Tegaknya Islam itu artinya tegaknya kekuasaan Islam. Kalau belum tegak harus diperjuangkan dengan sistem yang digariskan Al Qur’an dan As Sunnah.

Sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW, nanti di akhir zaman umat Islam akan terjerat mengikuti sunah orang-orang kafir. Kalau mereka masuk lubang biawak maka umat Islam pun ikut masuk lubang biawak. Kata sahabat: “apa yang dimaksud orang kafir itu Yahudi dan Nasrani? Nabi bersabda: “Ya, siapa lagi!”. Sabda Nabi ini artinya menerangkan bahwa di akhir zaman umat islam akan banyak mengikuti tingkah laku orang kafir, karena orang kafir menyerang islam dari dalam sehingga merusak moral dan tata cara hidup islam, maka kita harus hati-hati terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dari dalam.

Islam adalah sistem yang lengkap. Islam mengajarkan kepada kita bagaimana mengamalkan ajaran Islam, bagaimana sistem memperjuangkan Islam, itu semua harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Maka sudah seharusnya Kader-Kader HMI mempelajari hal ini dengan sungguh-sungguh, lalu diamalkan menurut kemampuan.
Setelah dipelajari dan dipahami perlu dibentuk tim untuk kemudian dijadikan konsep pengkaderan. Jadi saya berharap supaya di masa mendatang ada reformasi pengkaderan HMI yang dipusatkan kepada pemahaman Islam yang benar. Kalau tingkat pemahamannya sudah benar insya Allah, Allah akan menolong perjuangan kita.

Wassalam.

Sumber : http://abbcenter.org

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger